Aspek Budaya Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan

© Herman Damar

Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan seseorang antara lain adalah :

  1. Pengaruh tradisi; Banyak tradisi yang mempengaruhi perilaku kesehatan dan status kesehatan misalnya tradisi merokok bagi orang laki-laki maka kebanyakan laki-laki lebih banyak yang menderita penyakit paru dibanding wanita. Tradisi wanita habis melahirkan tidak boleh makan ikan karena ASI akan berbau amis, sehingga ibu nifas akan pantang makan ikan.
  2. Sikap fatalistis; Sikap fatalistis arti sikap tentang kejadian kematian dari masyarakat. Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contoh, beberapa anggota masyarakat di kalangan kelompok tertentu (fanatik) percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit, tetapi lebih memilih pasrah.
  3. Sikap ethnosentris; Sikap ethnocentris yaitu sikap yang memandang bahwa budaya kelompok adalah yang paling baik, jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa kebudayaannya paling maju, sehingga merasa superior terhadap budaya dari masyarakat yang sedang berkembang. Tetapi dari sisi lain, semua anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secara alamiah adalah yang terbaik. Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatan harus menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah orang yang paling pandai, paling mengetahui tentang masalah kesehatan, karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan masyarakat setempat sehingga tidak perlu mengikut-sertakan masyarakat tersebut dalam masalah kesehatan masyarakat. Dalam hal ini memang petugas lebih menguasai tentang masalah kesehatan, tetapi masyarakat dimana mereka bertempat tinggal lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri. Contoh lainnya seorang perawat atau dokter menganggap dirinya yang paling tahu tentang kesehatan, sehingga merasa dirinya berperilaku bersih dan sehat sedangkan masyarakat tidak.
  4. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya; Sikap perasaan bangga atas perilakunya walaupun perilakunya tidak sesuai dengan konsep kesehatan. hal tersebut berkaitan dengan sikap ethnosentrisme. Contoh, dalam upaya perbaikan gizi, di suatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat beranggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak mau dan tidak dapat disetarakan dengan kambing.
  5. Pengaruh norma; Norma dalam masyarakat sangat mempengaruhi perilaku masyarakat di bidang kesehatan, karena norma yang mereka miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku yang baik. Contoh, upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan ibu hamil sebagai pengguna pelayanan.
  6. Pengaruh nilai; Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan dan perilaku individu masyarakat, kerena apa tidak melakukan nilai maka dianggap tidak berperilaku “pamali” atau “saru “. Nilai yang ada di masyarakat tidak semua mendukung perilaku sehat. Nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan ada yang merugikan kesehatan. Nilai yang merugikan kesehatan misalnya arti dari memiliki anak yang banyak akan membawa rejeki sendiri sehingga tidak perlu lagi takut dengan anak banyak. Nilai yang mendukung kesehatan, tokoh masyarakat setiap tutur katanya harus wajib ditaati oleh kelompok masyarakat, hal ini tokoh masyarakat dapat di pakai untuk membantu sebagai key person dalam program kesehatan.
  7. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan. Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, anak harus mulai diajari sikat gigi, buang air besar di kakus, membuang sampah ditempat sampah, cara makan dan berpakaian yang baik  sejak awal, dan kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut sangat mempengaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah ketika dewasa.
  8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan; tidak ada kehidupan sosial masyarakat tanpa perubahan, dan sesuatu perubahan selalu dinamis artinya setiap perubahan akan diikuti perubahan kedua, ketiga dan seterusnya. apabila seorang pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat,maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang terlibat atau berpengaruh terhadap perubahan dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut, apabila ia tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia tahu tentang proses perubahan kebudayaan, maka ia harus dapat mengantisipasi reaksi yang muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan yang telah direncanakan. Artinya seorang petugas kesehatan kalau mau melakukan perubahan perilaku kesehatan harus mampu menjadi contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada anggapan bahwa petugas kesehatan merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih sehat, bahkan diyakini  bahwa perilaku kesehatan yang baik adalah hanya petugas kesehatan yang benar.

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..