Dogma Skripsi, Tesis dan Disertasi

Intro

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam dunia pendidikan terutama di tingkat perkuliahan, hasil akhir penanda selesainya menimba ilmu dituangkan dalam suatu tulisan hasil penelitian ilmiah yang disesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Sarjana (Strata 1) dituangkan dalam bentuk Skripsi, Magister (Strata 2) dituangkan dalam bentuk Tesis dan Doktoral (Strata 3) dituangkan dalam bentuk Disertasi.

Secara definisi maka dapat diterangkan sebagai berikut :

  • Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain.  Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung, observasi lapangan, penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga mengarah kepada material berupa penemuan baru. Artinya di tingkat Strata 1, mahasiswa hanya cukup sampai tahap pembuktian dari solusi yang telah ada atas suatu masalah.
  • Tesis ditulis bersandar pada metodologi yaitu metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya terkait pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menyajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi. Di tingkat Strata 2, mahasiswa dituntut untuk dapat menemukan bukti dan solusi baru atas instrumen-instrumen atau masalah-masalah terpilih serta dan tidak menghasilkan teori baru.
  • Disertasi ditulis berdasarkan kepada metodolologi penelitian yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi. Di tingkat Strata 3 ini, mahasiswa wajib melahirkan suatu teori baru.

Selama ini, paparan di atas menjadi dogma atas suatu batasan kepada para mahasiswa, para pengajar, para pembimbing dan para penguji dalam debat ilmiah, sehingga sungguh terasa kebebasan berekspresi atas ilmu yang telah dipelajarinya selama menjalani perkuliahan pun tersekat oleh batasan-batasan yang dideskripsikan para manusia, artinya mahasiswa tidak bisa menunjukkan kemampuannya lebih dari itu meskipun mampu membuktikan dalam sidang ilmiah. Misalnya mahasiswa strata 1 tidak diperkenankan menemukan fakta baru atau bahkan teori baru, dan mahasiswa strata 2 pun tidak diperkenankan melampaui koridor strata 2 dan memasuki koridor strata 3 dalam penelitian ilmiahnya meskipun memiliki kapabilitas, kapasitas dan kesempatan untuk itu.

you will never be allowed to be out of the box thinker

© 2016 – 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..