Dokter Suhermi: “Hidup Sehat, Anak Pun Cerdas”

Tulisan ini adalah copy paste dari hasil wawancara 7 tahun yang lalu antara penulis buku Buah Hati Cerdas dengan istri saya, semoga bermanfaat.

POLA HIDUP sehat yang mempengaruhi suasana nyaman di dalam keluarga pasti didambakan setiap orang. Bahkan, pola hidup sehat ini sangat berperan dalam mencetak anak cerdas. Akan tetapi, sering kali kita tidak tahu cara yang tepat dan murah untuk hidup sehat, termasuk ketika kita harus mendidik anak dengan sehat dan cerdas. “Anak yang cerdas sangat dipengaruhi oleh suatu pola hidup yang sehat. Sebaliknya pola hidup sehat akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama otaknya,” ujar Suhermi Yenti Bastaman.

Perempuan yang berprofesi sebagai dokter ini menyelesaikan pendidikannya di Universitas YARSI Jakarta tahun 2005. “Saya baru mulai aktif lagi di dunia medis sejak satu tahun belakangan ini. Karena setelah mempunyai anak, saya sepenuhnya mengabdikan diri saya kepada keluarga, mengurus suami dan anak-anak. Kebetulan anak saya yang pertama menderita cerebral palsy. Jadi, sangat membutuhkan perawatan, pengawasan dan bimbingan saya. Sekarang alhamdulillah, sudah bisa ditinggal,” ujar perempuan bersuamikan Dr. HP. Bastaman, dan dikaruniai anak, Nasya Nurluthfia Kusumadewa (18 Januari 2006) dan Muhammad Ajiwendra Kusumadewa (28 Juni 2007).

Berikut perbincangan buahaticerdas dengan dokter yang saat ini bekerja di Suwoto-suwoto Medical Services The Sultan Hotel’s, tentang kiat hidup sehat di dalam keluarga dan kaitannya dengan mencetak anak cerdas.

Apa yang dimaksud dengan pola hidup sehat itu, Bu?

Pola hidup sehat adalah satu hal yang kedengarannya mudah dan telah dilakukan oleh semua orang, tapi kenyataannya tidak begitu. Pola hidup sehat merupakan pola di mana seseorang membiasakan diri dengan pola makan yang baik, olahraga teratur, dan istirahat cukup. Tapi kembali lagi, suatu kondisi sehat tidak hanya menyangkut masalah fisik, tapi juga psikis. Dengan kata lain “sehat dari dalam dan sehat dari luar”. Jika keduanya berkesinambungan maka “sehat” pun dapat tercapai.

Bagaimana cara mendidik anak agar mengenal kesehatan?

Tentunya semua pendidikan diberikan sejak dini untuk bekal anak di kemudian hari. Mendidik tidak harus dengan duduk manis, mendengarkan dan memarahi. Bagi saya mendidik anak bisa dengan berbagai cara, di mana anak itu bisa nyaman menjalankannya.

Untuk membiasakan diri dengan suatu hal, saya cukup memberitahukan dengan ucapan dan mencontohkannya. Tapi, bukan memerintah. Satu kali, dua kali, tiga kali mungkin anaknya hanya melihat. Tapi kemudian karena terbiasa orang tua/pembimbingnya bicara dan melakukannya, dia pun akan terbiasa. Akhirnya dia juga akan melakukan kebiasaan itu.

Misalnya, setelah main saya membiasakan Ay (adek) untuk cuci tangan dan cuci kaki. Saya akan bilang “Ay, kalau habis main, cuci tangan dan kakinya ya”, sambil saya pun cuci tangan dan cuci kaki saya. Itu terus saya lakukan berulang-ulang. Sekarang Ay pun terbiasa melakukannya sendiri tanpa saya suruh, malah dia yang mengajari saya sekarang kalau saya lupa … hehehe…

Banyak tentang kesehatan yang saya ajarkan pada anak. Mulai dari menggunting kuku, mencuci tangan sebelum makan, dan sebagainya. Itu adalah tindakan preventif. Kalau menyangkut pola hidup sehat, saya pun tidak lupa menerapkannya. Dengan makan 4 sehat 5 sempurna, tidak malas untuk bergerak dengan membiarkan dia bebas bermain bersama teman-temannya, dan tidur siang.

Apa yang dimaksud dengan cerebral palsy, Bu?

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.

Layaknya ibu muda dengan kehamilan pertama, suami dan saya selalu memperhatikan, selalu khawatir akan apa pun itu menyangkut masalah kehamilan saya. Menginjak umur kehamilan 7 bulan, saat di-USG, dokter mengatakan ukuran kepala selalu lebih kecil dari perkiraan umur kehamilan, selalu kurang dua minggu dibandingkan dengan ukuran paha. Saya panik, dan melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk lebih meyakinkan. Namun, hasilnya malah saling bertolak belakang dan semakin membingungkan. Akhirnya kami memutuskan untuk melahirkan bayi kami dengan mempersiapkan hal terburuk sekalipun.

Sya bersama idolanya di kamar Sya

Bayi perempuan kami lahir, hari Rabu 18 Januari 2006 dengan berat badan 2.600 gram. Bahagianya hati saya ketika bayi kami keluar dokter mengatakan “alhamdulillah, bayi perempuan, tangisnya kencang.” Namun, setelah dimandikan dan diazankan oleh papanya, Nasya kecil wajahnya membiru. Nasya kecil pun masuk NICU. Setelah satu minggu di NICU dan dilakukan beberapa pemeriksaan, Nasya kecil pulang dengan diagnosis microcephaly di mana dengan hasil CT-scan didapatkan ada perkapuran di otak kecilnya.

Sampai umur 8 bulan saya masih berharap tidak terjadi apa-apa pada anak kami. Tapi tidak dengan kenyataannya. Sampai di usia itu, anak saya belum juga bisa apa-apa. Duduk, mengangkat kepala bahkan menggenggam pun belum bisa. Saya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak subspesialis saraf. Terdiagnosislah anak kami cerebral palsy. Kami pun dianjurkan untuk fisioterapi. Hingga saat ini kami masih melakukan fisioterapi.

Sekarang Nasya sudah hampir 4 tahun. Sebentar lagi dia ulang tahun. Saat ini ia sudah mulai mampu mengangkat kepalanya, walaupun tidak dalam waktu yang lama. Dia sudah mulai mampu mengarahkan tangannya ke sesuatu yang mau dia ambil, walaupun belum fokus dan tidak tergenggam. Nasya mempunyai kontak yang bagus, karena kami bisa berkomunikasi dengan jawaban menggunakan matanya yang jernih. Saya tahu dia mau apa dan apa yang tidak dia sukai. Saya hanya berusaha mempersiapkan dia menjadi sosok yang mandiri di kemudian hari.

Banyak produk makanan/minuman anak sekarang dibuat secara instan dan sangat mungkin tidak sehat, bagaimana mengatasi hal ini?

Untuk makanan instan, saya tidak pernah melarang total anak-anak saya ataupun keluarga. Saya hanya mengonsumsinya tidak untuk berlebihan dan sering. Karena kalau saya melarangnya secara total, di saat anak atau siapapun itu memakannya/mencobanya sedikit saja, ia tidak akan siap, tubuhnya pun tidak siap untuk mencernanya, malah yang jadi sakit. Namun, tidak juga untuk berlebihan. Kan semua apa pun itu jika konsumsi secara berlebihan akan sangat tidak baik.

Bagaimana cara mendorong orang tua yang malah malas untuk hidup sehat?

Waduh, agak susah juga ya. Lebih mudah mengajari anak kecil yang masih polos daripada mengajari orang tua yang katanya sudah banyak pengalaman. Lebih baik menulis di kertas putih polos daripada menulis di kertas yang sudah banyak coretannya… hehehe.

Paling tidak kita hanya bisa menjelaskan baik atau buruknya. Apa sebab dan apa akibatnya. Bahkan kalau perlu orang tua diperlihatkan apa akibat terburuk yang akan dihadapinya. Dengan kata lain, bukti. Mungkin penjelasan bisa diterima dan dicerna tidak seperti angin lalu saja. Karena sedikit banyak dia akan mengolah apa yang kita katakan.

Jujur saya juga akan kesulitan untuk menganjurkan hidup sehat pada orang tua saya. Orang tua saya menderita hipertensi. Saya berkali-kali bilang untuk mengurangi konsumsi garam dan makanan berlemak. Tapi, tetap saja dilakukannya, karena “gak enak makan gak ada rasanya” katanya. Tapi sekarang orang tua saya sudah bisa hidup sehat, seiring dengan berjalannya waktu.

Apa peran pendidik di sekolah dalam mengajarkan anak untuk sehat?

Pendidik di sekolah mungkin sangat membantu dalam mendidik anak untuk hidup sehat. Tapi tetap saja yang lebih sangat berperan penting dalam semua itu adalah keluarga. Karena keluarga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk bersama dalam mendidik dan membiasakan hidup sehat.

Menurut Ibu, bagaimana kaitan antara kecerdasan dengan kesehatan?

Kecerdasan dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Ada literatur yang mengatakan bahwa faktor genetik hanya menyumbang 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan. Lingkungan penting karena memiliki peran lebih besar daripada genetik. Faktor lingkungan terdiri dari memberikan kebutuhan untuk pertumbuhan fisik, memberikan stimulasi atau pendidikan, dan memberikan kebutuhan psikososial.

Dari situ telah terjawab bisa atau tidaknya dikaitkan antara kecerdasan dengan kesehatan. Bahwa anak yang cerdas sangat dipengaruhi oleh suatu pola hidup yang sehat. Sebaliknya, pola hidup sehat akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama otaknya.

Bagaimana tip singkat cara hidup sehat dengan biaya murah, Bu?

Hidup sehat itu tidak perlu mengeluarkan uang. Bahkan gratis. Berikut ini beberapa di antaranya. 1. Menghirup udara yang bersih, misalnya bebas dari asap rokok, asap kendaraan, dll, 2. Mengonsumsi makanan yang seimbang, tidak berlebihan. 3. Banyak minum air putih, 4. Olahraga teratur, 5. Istirahat yang cukup, dan 6. Menghindari stres.

Ini pertanyaan ringan saja Bu, biasanya anak kalau ditanya cita-citanya, mudah menjawab, “Ingin jadi dokter.” Apa kesan Ibu dalam hal ini?

Saya cukup terkesan dan bahagia. Di saat anak menyenangi sesuatu, berarti dia berpikir ada sesuatu pula di situ yang membuat dia senang dan nyaman. Itu menandakan bahwa ia berpikir akan suatu hal, menimbang bahwa itu baik untuk dia, dan artinya menandakan suatu kecerdasan otaknya.*****

*Sumber : Mutiara di Lintasan

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..