Evaluasi Kebijakan

Menurut Dunn (2003), evaluasi mempunyai arti yang berhubungan, masing-masing menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program. Sacara umum istila evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment), kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam suatu arti satun nilainya. Dalam arti yang spesifik, evaluasi berkenaan dengan produk informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan.

Pendapat yang sama dikatakan oleh Subarsono (2005) bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu. Adapun evaluasi bertujuan untuk :

  1. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan.
  2. Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan.
  3. Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan.
  4. Mengukur dampak suatu kebijakan.
  5. Untuk mengetahui apa bila ada penyimpangan.
  6. Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang.

Menurut Suharto (2005), evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan dan/atau kegagalan suatu rencana kegiatan atau program. Secara umum dikenal dua tipe evaluasi, yaitu on going evaluation atau evaluasi terus menerus dan expost evaluation atau akhir.

Tipe evaluasi yang pertama dilaksanakan pada interval periode waktu tertentu, misalnya per triwulan atau per semester selama proses implementasi (biasanya pada akhir phase atau tahap suatu rencana). Dan tipe evaluasi yang kedua dilakukan setelah implementasi suatu program atau rencana. Berbeda dengan montoring, evaluasi biasanya lebih difokuskan pada pengidentifikasi kualitas program.

Sedangkan menurut Mahmudi (2005) apabila evaluasi dikaitkan terhadap pengukuran kinerja dan afek suatu program dalam mencapai tujuan yang ditetapkan maka sangat erat kaitannya dengan tercapainya outcome dan adanya impact dari suatu program. Outcome adalah hasil yang diharapkan atau diinginkan dicapai dari suatu program atau aktifitas yang dibandingkan dengan hasil yang diharapkan atau tujuan awal dari pelaksanaan program tersebut. Sedangkan impact dalam dampak berupa efek langsung dan tidak langsung atau konsekwensi yang diakibat dari pencapaian tunjan program, yang diukur dengan membandingkan antara hasil program, yang diukur dengan membandingkan antara hasil program dengan perkiraan keadaan yang akan terjadi apabila program tersebut tidak ada.

Selanjutnya menurut Palumbo (dalam Parson 2006) evaluasi dibedakan berdasarkan fungsinya yaitu:

  1. Evaluasi Formatif

Evaluasi yang dilakukan ketika program sedang diimplementasikan atau sedang berjalan, dimana memonitor bagaiman sebuah program dikelola atau diatur untuk menghasilkan umpan balik yang bisa berfungsi meningkatkan proses implementasi dan untuk memberi informasi yang berguna kepada pemimpin program bagi perbaikan program. Penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa evaluasi sebagai alat untuk mengukur kinerja suatu program.

2. Evaluasi Sumatif

Evaluasi dilakukan pada akhir program selesai dilaksanakan dan merupakan fase dampak bagi pelaksanaan program, dimana untuk memberi informasi tentang manfaat atau kegunaan program. Membandingkan antara sebelum dan sesudah program tersebut berjalan dengan tujuan mengarah kepada keputusan tentang kelanjutan program.

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..