Faktor Penghambat Pembangunan Dan Pengembangan Kesehatan Indonesia

 

Faktor penghambat disoroti dari sudut sosial budaya, telah dibentangkan di awal unsur budaya universal, meliputi Agama, Ekonomi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Organisasi Sosial, Bahasa dan Komunikasi serta Kesenian.

 

Faktor Agama dan Kepercayaan Gaib Non Religi

Agama yang hidup di tanah air memiliki nilai dan norma pembentukan mental bangsa di bidang ritual dan seremonial serta akhlak berupa moral serta etika dan tatakrama dalam kehidupan. Selanjutnya ada juga ajaran agama tentang campur tangan Tuhan seketika tatkala umatnya sudah keterlaluan dalam perilaku menyimpang dalam penjamahan alam atau komunikasi sesama manusia. Khusus dalam hal pembangunan kesehatan di Indonesia, banyak didapatkan data tentang pengaruh kepercayaan yang dapat menghambat upaya pembinaan kesehatan secara biomedis. Misalnya kepercayaan bahwa penyakit seseorang disebabkan oleh campur tangan agen penyakit yang bersumber dari luar diri dan luar lingkungan alam manusia. Dipercayai juga penyembuhannya, mesti dengan membujuk atau mengusir agen atau mengobati dosa kepada supernatural penyebab penyakit itu. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang penderita berkunjung ke puskesmas atau rumah sakit atau klinik (Jordaan, 1985:126). Di samping itu banyak pula kepercayaan tentang penyakit diare balita di berbagai wilayah di Indonesia ciri pertumbuhan seperti : “mau pandai jalan dan bicara”, “tumbuh gigi”, dan sebagainya. Penderita tidak diobati, dibiarkan mengalami dehidrasi lebih lama dan bisa membawa kematian (Depkes, 1986:77).

Di beberapa tempat, anak menderita sakit kulit, korengan, dipercayai karena banyak makan yang asam-asam sehingga jadi korengan. Dari itu asam harus dipantangkan. Padahal vitamin C yang bersumber pada makanan yang asam-asam penting bagi pembentukan kulit baru jika luka atau sakit. Jika penyakit diare balita atau anak korengan itu bertambah parah, dianggap karena kemasukan roh halus atau kesambat, maka penyembuhannya membujuk atau mengusir roh tadi, melalui penyembuh tradisional atau agama. Banyak juga pemuka agama yang melarang melakukan sesuatu kegiatan pengembangan program kesehatan karena diyakini bertentangan dengan agama seperti mengharamkan program keluarga berencana secara total tanpa kategorisasi aspeknya, sehingga penduduk setempat tidak berani melakukannya takut dikucilkan atau dapat sanksi sosial dalam komunitasnya. Hal ini memperlambat pengendalian ledakan penduduk yang juga berdampak negatif ke kesehatan (UNICEF Indonesia, 1986:3).

Faktor Ekonomi

Sebagian besar warga masyarakat pedesaan dan pinggiran kota yang miskin (40% penduduk Indonesia dari acuan sembilan bahan pokok/dapur), merasa berat memikul biaya pengobatan biomedis yang diselenggarakan di puskesmas, rumah sakit dan klinik pemerintah, terutama yang diselenggarakan swasta. Warga masyarakat sering menghindari pengobatan biomedis, pergi ke penyembuh medis tradisional yang biayanya sukarela atau pengobatan sendiri (Boedhihartono, 1989:17; Soenardi, 1989:86).

Faktor Ilmu Pengetahuan

Hambatan dari segi ilmu pengetahuan, dapat bersumber dari lembaga pengembangan ilmu pengetahuan biomedis, dari sistem medis tradisianal serta dari warga masyarakat. Dari bagian pengembangan ilmu di lembaga pendidikan kesehatan misalnya fakultas kedokteran, terlihat antara lain :

  1. Konsep baru dalam pembangunan kesehatan belum disosialissikan secara luas sehingga kurang dipahami masyarakat;
  2. Pengembangan fakultas dalam beberapa segi lebih mementingkan mutu internasional daripada kebutuhan pembangunan nasional, lokal, pulau terluar dan komunitas adat terpencil;
  3. Orientasi fakultas masih mempertahankan zaman emas spesialis klinik, sedikit sekali pada kesehatan prima;
  4. Pandangan lebih dominan atas pendekatan monodisipliner daripada inter dan multidisipliner;
  5. Bagian kesehatan masyarakat belum mampu mengubah suasana orientasi penyakit ke arah kesehatan secara luas (Loedin, 1982:11).

Hal ini terbawa oleh para dokter sebagai alumni yang berpraktik di institusi-institusi kesehatan, baik di Pemerintahan maupun Swasta.

Faktor Medis Tradisional

Sistem pengetahuan dari pelayanan kesehatan secara tradisional banyak yang bersifat lisan dan karena itu sulit dimengerti, diawasi dan dibakukan. Peralihannya dari satu angkatan yang tua ke angkatan muda berikutnya juga bersifat lisan dan diam-diam (esoteris). Biasanya melalui sistem magang. Seorang yang ingin menjadi penyembuh seperti dukun, dengan atau tanpa isyarat Ilham kesaktian, mulai dengan membantu seorang dukun yang sudah terkenal dan seringkali sejak ia masih kecil (Suparlan, l991:11).

Hal penting dari pemraktik medis modern dan medis tradisional, yang jadi hambatan adalah :

  1. Perbedaan dalam proses sosialisasi dan profesionalisasi, sehingga persepsi terhadap sesuatu objek yang sama akan dapat berbeda;
  2. Suasana saling mengecilkan arti upaya kesehatan antara satu dengan lainnya;
  3. Kurangnya ilmu pengetahuan dari masing masing sistem medis itu yang sesuai dengan tuntutan perkembangan berbagai penyakit yang timbul.

Faktor Masyarakat

Di Indonesia berlaku juga apa yang dikatakan J. Kosa dan L.S. Robertson dalam artikelnya Social Aspect of Health and Illness tentang perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi kepercayaan yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang didasarkan pada pengetahuan ilmu-ilmu biologi, termasuk konsep sehat dan sakit. Secara biomedis telah digariskan dalam Sistem Kesehatan Nasional dan WHO, sehat itu adalah kondisi seseorang yang lepas dari gangguan kimiawi, gizi, bakteri, cacat serta kelemahan fisik. Juga memiliki ketenangan jiwa, kesenangan, kegembiraan atau kebahagiaan dalam hidup. Sebaliknya adalah sakit. Akan tetapi warga masyarakat di desa umumnya memahami sehat adalah seseorang yang dapat menjalankan tugas hidup atau sosialnya. Sakit adalah orang yang tidak berdaya keluar rumah melakukan rutinitasnya. Sementara yang disebut sembuh menurut medis modern, jika kondisi sehat itu mencapai lepas dari gangguan kimiawi, gizi, bakteri/infeksi dan kelemahan) ”diseases”. Sedangkan menurut warga masyarakat sembuh adalah tidak lagi merasakan sakit atau kelainan perasaan dari sejumlah komponen organnya ”illness”. Jadi berorientasi pada gejala ”simptom”. Berbeda dengan pendekatan biomedis yang berorientasi pada penyebab gejala (etio-simptomatology) seperti perasaan panas dingin kaitannya dengan typhus/bakteri salmonella, dll. (Landy 1977:170; Young. 1982:265).

Hal ini berhubungan pula dengan banyaknya perilaku warga masyarakat yang sengaja atau tidak sengaja merugikan (di samping menguntungkan) warga masyarakat dari segi kesehatan, seperti dilukiskan oleh Kalangie (1982:56), sebagai alternatif perilaku kesehatan yang diskemakan oleh Dunn.

Di Indonesia misalnya, kebiasaan (merugikan) mandi malam sebagai sumber penyakit rheumatic; merokok (merugikan umum di berbagai negara) potensil melahirkan penyakit paru-paru, jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin; membuang sampah di sembarang tempat mengakibatkan saluran air rumah tangga tidak lancar menyuburkan pembiakan nyamuk aedes penular penyakit demam berdarah (dengue), dan seterusnya. Kebiasaan (menguntungkan) bersugi tembakau bagi ibu-ibu pemakan sirih dapat memperkuat giginya; petani turun ke sawah pada pagi selesai shalat subuh atau menjelang fajar menyingsing membuat paru-paru dan pernafasannya lebih sehat.

Faktor Teknologi

Dari sistem medis modern, banyak alat diagnosa dan terapi baru belum dimiliki oleh kebanyakan rumah sakit dan puskesmas daerah, khususnya di tingkat Kabupaten dan Kecamatan. Adapun dari sistem medis tradisional sering sekali menggunakan peralatan-peralatan dari benda-benda yang kurang higienis bahkan tidak steril, sehingga terjadi dampak negatif. Seorang paraji (dukun bayi) sering sekali memotong tali pusar bayi dengan sembilu, pisau atau gunting yang kurang bersih. Kemudian bekas potongan ditutup dengan abu dapur yang mungkin mengandung bakteri. Hal demikian, dapat menimbulkan kejang-kejang bagi bayi, menderita tetanus dan akhirnya meninggal.

Faktor Organisasi Sosial.

Pranata sosial di Desa, ujung tombak pembangunan kesehatan nasional belum manggembirakan. Misalnya posyandu sebagai inti kekuatan pranata kesehatan di pedalaman, banyak yang tersendat bahkan mati. Terkadang disebabkan warga masyarakat yang suami-istri sama-sama bekerja. Atau anak mereka banyak kecil- kecil sementara saat posyandu buka, tidak ada yang jaga sebagian anaknya. Kalau dibawa semua anak biaya jajan anak lebih membengkak. Saat lain, disebabkan petugas teknis medis puskesmas (dokter atau para medis) yang membinanya sering datang terlambat atau tidak datang. Di sudut lain warga masyarakat kurang mau ke posyandu karena kalau ada anak sakit, posyandu tidak mengobatinya kecuali sekedar menganjurkan ke puskesmas atau ke rumah sakit, sehingga warga masyarakat lebih cenderung langsung saja ke puskesmas daripada ke posyandu (Riskesdas, 2008: 223–227).

Faktor Pranata Hukum ”Legalitas” Kesehatan

Sejumlah praktik medis tradisional telah dilegalisasi oleh Kementerian Kesehatan seperti: akupunktur, tetapi pemraktik lainnya seperti magik-religious, herbalis, dukun patah tulang, dan paraji, belum secara resmi mendapat izin praktik. Masalahnya selain cara bekerjanya yang belum dapat diketahui secara tepat, juga masih memerlukan diskusi para ilmuan seperti yang dikemukakan oleh Boedhihartono (1989:24) tentang apakah mereka berhak mengeluarkan “surat sakit seorang pasien”, “surat keterangan meninggal”, “sebagai saksi di pengadilan tentang visum sebab-sebab meninggalnya seseorang karena black magic atau biasa”, atau “berlaku tidaknya surat keterangan penyembuhan tradisional untuk mendapatkan asuransi kesehatan maupun asuransi kecelakaan yang berhubungan dengan jiwa atau harta benda, dan sebagainya”. Tentu perlu melibatkan Kementerian Kehakiman, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Nasional, bahkan Kementerian Agama. Apakah semua pengobatan atau penyembuhan medis tradisional akan diperlakukan sama atau ada kekecualian, masih belum tuntas hingga sekarang walaupun landasan hukumnya sudah ada, yaitu pada UU No. 36 Tahun 2009.

Di Indonesia banyak terdapat masyarakat tradisional dan bahkan komunitas terpencil. Sifat anggota masyarakat seperti ini masih penganut sistem kepercayaan yang sukar membedakan tindakan rasional dengan irrasional. Jadi sistem pengobatan tradisional masih perlu dipetarangkum dan didokumentasikan secara menyeluruh. Hingga sekarang belum terdata secara rinci. Kekayaan data pengobatan alternatif sungguh penting sebagai dasar menentukan kategorisasi, acuan, prosedur atau proses yang serasi. Tidak tumpang tindih dengan biomedis dalam bentuk inkorporasi, integrasi, adopsi atau legalisasi atau apapun strategi yang disepakati (Boedhihartono, 1989:21).

Faktor Bahasa

Acapkali istilah atau penjelasan dalam dunia kedokteran tidak dipahami warga masyarakat sewaktu dikomunikasikan oleh petugas kesehatan. Sehingga warga yang awam cenderung salah menginterpretasi (mis-komunikasi). Begitu juga tentang pemraktik medis tradisional cenderung menjelaskan kepada warga masyarakat istilah kedokteran modern (untuk jastifikasi) dengan mengkomunikasikannya dengan istilah-istilah medis tradisional yang sebenarnya tidak sama. Di satu segi warga masyarakat merasa dapat dukungan spiritual yaitu mendapatkan pengobatan sebenarnya dari pengobat tradisional seperti dukun sebagai pengganti dokter biomedis. Akan tetapi sesungguhnya penyakit menuntut penyembuhan ke tingkat medis modern (biomedis), seperti penyakit infeksi, tetanus dan tumor yang dipandang karena kesambat atau terkena black magic.

Pembangunan kesehatan di Indonesia pada dekade terakhir cukup pesat. Pembangunan kesehatan meliputi biomedis, tradisional, keluarga atau sendiri. Disangga sejumlah faktor pendukung (stimulant) dan faktor kendala (barrier). Ada yang datang dari penyelenggara biomedis, pemraktik tradisional dan juga dari pemraktik keluarga atau sendiri. Baik dari pemerintah, swasta dan warga masyarakat. Dari pemraktik disiplin kedokteran dan ilmu-ilmu sosial. Proposisi hipotesis sebagai kecambah teori besar (grand theory) yang dapat penulis bangun dari uraian terdahulu adalah “semakin intensif studi faktor pendukung dan penghambat dari segi ekologi, biologi, psikologi, social, budaya, dan religi dibarengi uji coba inovasi medis ansih dalam biomedis serta psikotherapi sebagai acuan mendasari pengambilan kebijakan dan implementasinya dalam pembangunan kesehatan di Indonesia, akan mewujudkan idea utopis tentang kesehatan menyeluruh”.

Selama ± 40 tahun lalu program kesehatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan RI terlalu berorientasi pada teknis biomedis dan kurang memperhatikan faktor sosial budaya dan perilaku bahkan sampai sekarang (tahun 2010) masih minim. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh Litbangkes Depkes lebih mengarah pada kepentingan pengembangan ilmu dan penerapan biomedis ansich yang jauh hubungan dengan faktor sosial budaya. Banyak masalah kesehatan tidak dapat dipecahkan oleh ilmu kedokteran melalui pendekatan teknis biomedis semata. Akan tetapi memerlukan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai disiplin sosial budaya. Untuk itu harus diperhitungkan arah perubahan sosial, keadaan sosial budaya dari penerima (recipient), kehendak dan aspirasi mereka terhadap perubahan serta hubungan sosial yang telah tertanam nilai dan normanya dalam masyarakat.

Ilmu-ilmu sosial budaya membantu merumuskan tipe perubahan masyarakat dalam berbagai keadaan. Berguna dalam penentuan kebijaksanaan, strategi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi upaya kesehatan fisik, psikis, sosial, emosional, dan spiritual. Memberi masukan kepada sistem monitoring pelaksanaan program-program kesehatan.

Perlu identifikasi hambatan antara ilmu/ilmuwan sosial dengan ilmu/ilmuwan dan pemberi jasa kesehatan. Hambatan dari usia ilmu- ilmu sosial, birokrasi, serta kemungkinan lain. Digali lewat penelitian pendekatan “ethic-emic” yaitu data dari keprofesionalan ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu sosial (akademis), maupun dari fenomena sosial budaya yang hidup sebagai kebiasaan yang menjadi adat istiadat masyarakat (social customs). Kemudian dicari solusi lewat workshop intersubjektivitas. Dengan demikian diharapkan pembangunan kesehatan di Indonesia, berhasil mencapai tujuan dan sasarannya yaitu “manusia Indonesia sehat seutuhnya”.

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..