Fun Farming

Intro

Tulisan pagi ini saya temukan di laman Facebook milik salah satu saudara perpancian (gak ngerti kaaaan … hahahaha ..) .. bahasanya lugas tapi nyeredet ka nu hate kata orang sunda dan ini yang membuat saya ingin copy paste tulisannya, selamat membaca ..

………..

Waktu kuliah di MB IPB ada satu rangkaian kalimat dari Pak Dosen waktu yang selalu Mamang ingat, sayangnya karena Faktor Usia si Mamang Lupa namanya Pokoknya dosennya Killer, Jangotan, agak gemuk, Rohis Temannya Pak Hermanto aaaah lupa xixixi.

ada sesuatu yang hilang dari Pertanian Indonesia yaitu “MENYENANGKAN sehingga bisa MENYENANGI”

Beliau menceritakan bahwa ada yang berubah dari PERTANIAN Indonesia dulu dengan sekarang, ada sesuatu yang hilang dari Pertanian Indonesia yaitu “MENYENANGKAN sehingga bisa MENYENANGI”, bahasa kerennya FARMING FUN & FASHION, kalimat ini mulai langka dalam dunia Pertanian di Indonesia karena menjadi Petani saat ini dianggap KASTA paling rendah dalam Tatanan FEODALISMEU Modern ala Indonesia. Beliau menyampaikan Bahwa dahulu Pertanian itu menyenangkan, pergi ke sawah itu sangat menyenangkan beliau menceritakan ketika Menanam atau Panen saja masyarakat itu membuat sajian makanan yang sagala endah, sagala aya, mulai dari tumpeng, bakakak, bubur-2, dawegan kelapa, buah- buahan, kopi teh, dan lainnya. Ketika mengusir hama burung pun masyarakat kreatif membuat angklung gubrag, sambil membuat irama mereka memainkan angklung untuk mengusir burung mengelilingi sawah, lalu untuk mengusir hama-2 yang kecil tak kasat mata mereka membuat Karinding yang suaranya mampu menggetarkan dan mengusir hama- hama tak kasat mata itu. Ketika panen tiba sambil bernyanyi riang gembira petani memetik satu per satu padinya. Setelah kering mau dikonversi menjadi beras ditumbuk di lumbung sambil bernyanyi oleh ibu- ibu yang ngariung melantunkan irama- irama ketukan halu.

Saat ini Pertanian sudah berubah dari dahulu anak- anak senang datang kesawah karena banyak makanan yang enak dan menarik diikuti karena bisa bermain disana, saat ini para Petani kalau mau pergi ke sawah hanya membawa air putih yang dibawa dalam botol cocacola besar bekas, lalu nasi putih sisa semalam ditambah kepala ikan peda seadanya. Bisa dibayangkan bagaimana anak- anak generasi penerus bisa menyenangi Sawah kalau ketika datang kesana hanya disuguhi kepala peda dengan nasi yang alakadarnya. Berbeda dengan dulu ketika di sawah kita itu bisa bersuka cita riang gembira karena segala makanan ada, mau bubur, manisan, buah- buahan, sampe tumpeng dan bakakak pun ada.  Mamang termasuk yang masih merasakan nikmatnya ngariung di sawah ketika panen atau mau menanam padi banyak sajian makanan yang nikmat dan sedap, sehingga gambaran indahnya bertani masih tergambar dan terbayang dalam benak Mamang. Mamang masih ingat hujan- hujanan berlarian di sawah ketika Kakek dan Nenek Mamang ngarambet, Mamang ngala supa / mengambil jamur di tumpukan-2 jerami, setelah beres pulang jamurnya digoreng dicampur bawang merah aaaah nikmat sekali. Belum lagi berlarian dipematang menangkap Simeut Sipedang/ Belalang Sipedang yang ukurannya besar warna coklat kemudian ditiir seperti sate ditusuk dalam lidi yang ngambil dari pohon kelapa. Anak- anak dulu riang gembira semakin banyak simeut yang ditangkap semakin berasa menjadi jawara, belum lagi kegiatan ngurek dan ngadamar belut yang sangat menyenangkan sekali.

Pekerjaan Rumah bagi Menteri Pertanian untuk kembali membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia

Mengutip apa yang Kang Odjat Sujatnika sampaikan bahwa, “doing farming is no longer fun. Ekses oerientasi pertanian yang ditarik dari alam subsistens-tradisional-values ke alam modern-industrial-fungsional. Dari konsep memenuhi kebutuhan sendiri, mendadak menjadi harus memenuhi kebutuhan dunia. Dari Socio-Economic activity menjadi economic activity, dari manusia mahluk sosial menjadi budak ekonomi. Aaaah sedap sekali ulasan Kasepuhan yang kebetulan salah satu Pituin Kabuyutan Cipaku Sumedang juga. Yang unik dan menarik adalah memperhatikan PERTANIAN JEPANG kelihatannya mereka tidak banyak berubah Modernitas tidak kemudian menghilangkan nilai- nilai FUN FARMING nya kalau kita lihat dari foto- foto CropCircle Jepang bagaimana mereka bisa membuat sesuatu yang sangat menyenangkan dari Sawah- sawah mereka. Bisa membuat gambar- gambar dengan mengatur tanaman dan jenisnya padi yang warna hijau, warna putih, dan warna kuning dipadu tata letak tanamnya sehingga membuat gambar yang sangat Indah dipandang dan menjadi suatu kebanggaan buat mereka. Konon bahkan sempat membaca ada perlombaannya juga. Kalau kita perhatikan di Kabupaten Sumedang sebenernya sudah ada hal yang mirip yaitu tiap Perayaan Agustusan ada arak- arakan membuat Jampa yang berisi hasil pertanian dan masyarakat dianjurkan membuat kreatifitas dari Jampanya tersebut, sayang barangkali belum ada insentif untuk mereka- mereka yang berhasil menciptakan Jampa yang baik sehingga menjadi kebanggaan ketika dinilai dan dilombakan oleh juri- juri professional dan dengan hadiah yang menggiurkan tentunya.

Barangkali Pekerjaan Rumah bagi Menteri Pertanian untuk kembali membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia dan seluruh stakeholder bidang pertanian untuk kembali ke Mindset “FUN FARMING”, Pertanian yang sangat menyenangkan sehingga bisa menyenangi, dengan demikian regenerasi pertanian tidak akan terputus, dan petani tidak akan menjual sawah atau kebunnya hanya karena sudah tidak ada lagi yang mau menjadi petani. Harus ada instentif juga peran pemerintah dalam mendorong Petani agar kembali tumbuh semangatnya, tumbuh rasa senangnya kembali, sehingga kreatif dan motekar dalam mengembangkan pertaniannya.

*sumber : facebook

© 2016 – 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..