Kesehatan Sebagai Indikator Pembangunan Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Capital merupakan salah satu sumber daya pembangunan yang tidak hanya sebagai obyek tetapi sekaligus subyek yang mampu menggerakkan dan berperan dalam pengalokasian sumber daya-sumber daya lainnya. Dimana kemampuan ini sangat menentukan dalam pencapaian tujuan pembangunan yang diinginkan. Sehingga pembangunan kemampuan SDM menjadi salah satu fokus utama dari seluruh kegiatan pembangunan.

Pembangunan manusia adalah merupakan proses memperluas kesempatan untuk memilih yang dapat dicapai dengan meningkatkan kapabilitas dan peran manusia. 3 (tiga) kapabilitas dasar yang merupakan dimensi pokok pembangunan manusia adalah berumur panjang dan sehat yang menunjukkan peluang hidup, berpengetahuan dan berketrampilan serta akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standart hidup yang layak (BPS, 2002). Untuk mengukur hasil dari upaya-upaya peningkatan kapabilitas dasar tersebut digunakan lndeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dalam penghitungan IPM digunakan 3 (tiga) indih:ator dampak sebagai komponen dasar penghitungannya yaitu :

  1. Angka umur harapan hidup waktu lahir.
  2. Pencapaian tingkat pendidikan, yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.
  3. Standart hidup layak yang diukur dengan rata-rata konsumsi riil yang telah disesuaikan.

IPM merupakan indikator komposit dari ketiga komponen dampak tersebut yang sebenarnya merupakan hasil berkelanjutan dari lndikator-indikator (set indikator) Pembangunan Manusia. Set indikator tersebut terdiri dari 50 indikator yang dievaluasi secara berkesinambungan yang dikelompokkan menjadi set indikator Kependudukan, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Sosial Budaya dan Perumahan.

Set indikator bidang kesehatan terdiri dari 15 indikator yaitu :

  1. Angka Kematian Bayi
  2. Persentase penolong persalinan tenaga medis
  3. Persentase penolong persalinan bukan medis
  4. Rata-rata Lama Sakit (hari)
  5. Angka Kesakitan
  6. Angka Balita
  7. Jumlah Puskesmas per-10.000 penduduk
  8. Jumlah Dokter per-10.000 penduduk 
  9. Dokter per-Puskesmas
  10. Pemeriksaan pra-kelahiran
  11. Jumlah Posyandu
  12. Jumlah Bidan Desa
  13. Jumlah Pondok Persalinan Desa
  14. Jumlah Pos Obat Desa per-desa
  15. Cakupan JPKM

Konsep-konsep pengukuran status derajat kesehatan masyarakat pada dasarnya dilandasi oleh dua indikator utama yaitu Morbiditas (angka kesakitan) yang merupakan upaya untuk mengukur kualitas hidup, dan Mortalitas (angka kematian) untuk mengukur kuantitas hidup.

Indikator mortalitas disamping kelebihannya karena tidak memiliki pengertian ganda akan tetapi kurang sensitif terhadap perubahan derajat kesehatan masyarakat . Sedangkan morbiditas, walaupun secara potensial lebih sensitif akan tetapi dalam prakteknya penelaahan penyakit seringkali masih dipengaruhi oleh pendapat individu tentang kondisi kesehatannya. Adanya kelemahan-kelemahan ini menyebabkan dikembangkannya indikator-indikator lain untuk melengkapi seperti jumlah hari kerja yang hilang karena sakit dan pengukuran tingkat kecacatan.

Set indikator bidang kesehatan merupakan kelompok dengan indikator terbanyak sehingga berkontribusi besar dalam perhitungan IPM, dimana pengembangan kelembagaan JPKM (sistem pembayaran pra-upaya) menjadi salah satu indikatornya. Di samping itu, selain sektor kesehatan, sektor kesejahteraan, sektor perumahan rakyat dan pemukiman dianggap dapat mempengaruhi tingkat/derajat kesehatan masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya peran kesehatan dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..