Klasifikasi Status Gizi

 

Standar baku antropometri yang paling banyak digunakan adalah standar baku Harvard dan standar baku WHO-NCHS. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) pada tanggal19 Januari 2000 menetapkan bahwa penilaian status gizi berdasarkan indeks BB/U (Berat Badan per Umur), TB/U (Tinggi Badan per Umur), dan BB/TB (Berat Badan per Tinggi Badan) di sepakati penggunaan istilah status gizi dan baku antropometri yang dipakai dengan menggunakan Z-score dan baku rujukan WHO-NCHS (WNPG VII, 2004). Untuk menentukan klasifikasi status gizi digunakan Z-score (simpang baku) sebagai batas ambang.

Kategori dengan klasifikasi status gizi berdasarkan indeks BB/U,PB/U atau BB/TB diobagi menjadi 3 golongan dengan batas ambang sebagi berikut :

  1. Indeks BB/U
    1. Gizi lebih, bila Z-score terletak > + 2SD

    2. Gizi baik, bila Z-score terletak ≥ -2SD s/d +2SD
    3. Gizi kurang, bila Z-score terletak ≥ -3 SD s/d <-2SD
    4. Gizi buruk, bila Z-score terletak < -3SD
  2. Indeks TB/U
    1. Normal, bila Z-score terletak ≥ -2SD
    2. Pendek, bila Z-score terletak < -2SD
  3. Indeks BB/TB
    1. Gemuk, bila Z-score terletak > +2SD
    2. Normal, bila Z-score terletak ≥ -2SD s/d +2SD
    3. Kurus, bila Z-score terletak ≥ -3SD s/d < -2SD
    4. Kurus sekali, bila Z-score terletak < -3SD (Sumber :WNPG VII, 2004)

Pertimbangan dalam menetapkan cut off point status gizi didasarkan pada asumsi resiko kesehatan :

  1. Antara -2SD sampai +2SD tidak memiliki atau beresiko paling ringan untuk menderita masalah kesehatan
  2. Antara -2SD sampai -3SD atau antara +2SD sampai +3SD memiliki resiko cukup tinggi untuk menderita masalah kesehatan
  3. Di bawah -3SD atau diatas +2SD memiliki resiko tinggi untuk menderita masalah kesehatan

Klasifikasi dan penentuan status gizi berdasarkan antropometri yaitu :

  1. gizi lebih 
: overweight dan obesity
  2. gizi baik 
: wellnourished
  3. gizi kurang 
: underweight (mild dan moderate malnutrition)
  4. gizi buruk 
: severe malnutrition (marasmus, kwashiorkor dan marasmic kwasiokor)

Menurut buku pedoman pemantauan status gizi (PSG) melalui posyandu, Depkes RI (2010) indeks dan baki rujukan yang digunakan dalam pengolahan data adalah indeks BB menurut umur dengan menggunakan baku rujukan antropometri WHO-NCHS, dengan menentukan 4 kategori sebagai berikut:

  1. gizi baik 
: ≥ 80% terhadap bakuan median.
  2. gizi sedang 

: 70-79,9% terhadap bakuan median.
  3. gizi kurang 
: 60-69,9% 
terhadap bakuan median.
  4. gizi buruk 
: < 60%
terhadap bakuan median (Soegianto, 2007).

Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk Anak Laki-laki Di Bawah Usia Lima Tahun
Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk Anak Perempuan Di Bawah Usia Lima Tahun

 

 Adapun faktor yang berhubungan dengan Status Gizi

  1. Umur

Kebutuhan energi individu disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. 


  1. Frekuensi Makan

Frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan berapa banyak makanan yang dikonsumsi seseorang.

  1. Asupan Makanan

Kebutuhan nutrient tertinggi per kg berat badan dalam siklus daur 
kehidupan adalah pada masa bayi dimana kecepatan tertinggi dalam pertumbuhan dan metabolisme terjadi pada masa ini (Kusharisupeni,2007). Seorang anak yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya. Akan tetapi asupan zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan akan mempengaruhi pertumbuhan anak. Kekurangan zat gizi akan 
dimanifestasikan dalam bentuk pertumbuhan yang menyimpang dari standar (Khomsan, 2004). Apabila anak balita intake makanannya tidak cukup maka daya tahan tubuhnya akan menurun sehingga akan mengalami kurang gizi dan mudah terserang penyakit infeksi. Selama masa pertumbuhan balita memerlukan asupan energi dan protein. Protein diperlukan oleh anak balita untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh dan pertumbuhan jaringan baru (Robberts,et.al, 2005).

  1. Penyakit Infeksi

Hubungan antara gizi kurang dan penyakit infeksi sangat komplek. 
Disatu sisi kekebalan tubuh anak terhadap infeksi akan berkurang apabila anak menderita gizi kurang. Contohnya adalah anak yang gizi kurang selanjutnya dapat menderita penyakit pneumonia atau penyakit infeksi lainnya sedangkan disisi lain penyakit infeksi sangat mempengaruhi status gizi anak (Kartasapoetra, 2008). 
Penyakit infeksi dapat menyebabkan kehilangan nafsu makan sehingga terjadi kekurangan gizi secara langsung. Pada anak umur 12 sampai 36 bulan khususnya mempunyai resiko penyakit infeksi seperti gastroenteritis dan campak (WHO, 2004).

  1. Pola Asuh

Pola asuh anak merupakan kemampuan keluarga dan masyarakat 
untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya baik fisik, mental dan sosial berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat kebersaihan, dan member kasih sayang. Pola asuh gizi merupakan bagian dari pola asuh anak yaitu praktik di rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak (Zeitlin dalam WNPG VII, 2004).

  1. Tingkat Pendidikan

Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin 
tinggi tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin 
tinggi pula pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan 
.

  1. Pengetahuan

Tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi tingkat pengetahuannya akan gizi. rendah-tingginya pendidikan seseorang juga turut menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal ini, kita dapat menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat. Di samping itu, dilihat dari segi kepentingan gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat mengambil tindakan

  1. Pekerjaan

Pekerjaan yang berhubungan dengan pendapatan merupakan faktor 
yang paling menentukan tentang kuantitas dan kualitas makanan. Ada hubungan yang erat antara pendapatan yang meningkat dan gizi yang didorong oleh pengaruh menguntungkan dari pendapatan yang meningkat bagi perbaikan kesehatan dan masalah keluarga lainnya yang berkaitan dengan keadaan gizi.

  1. Jumlah Anak

Urutan kelahiran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pola pertumbuhan anak balita dalam satu keluarga. Anak yang terlalu banyak selain menyulitkan dalam mengurusnya juga kurang bisa menciptakan suasana tenang di dalam rumah. Lingkungan keluarga yang selalu rebut akan mempengaruhi ketenangan jiwa, dan ini secara langsung akan menurunkan nafsu makan anggota keluarga lain yang terlau peka terhadap suasana yang kurang mengenakkan (Apriadji, 2011). 
Menurut Berg rumah tangga yang mempunyai anggota keluarga besar beresiko mengalami kelaparan 4 kali lebih besar dari rumah tangga yang anggotanya kecil dan beresiko menderita gizi kurang pada anak- anak 5 kali lebih besar. sedangkan Amos (2000) melaporkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan status gizi.Semakin banyak jumlah anak semakin besar resiko menderita kurang energi protein (OR=1,12) (Arisman, 2007).

  1. Sanitasi Air Bersih

Kurang energi protein merupakan masalah kesehatan terutama di 
Negara berkembang. Ketersediaan air bersih, sanitasi dan hygiene member dampak pada penyakit infeksi khususnya penyakit diare. Ketersediaan air bersih merupakan upaya pencegahan yang berkaitan dengan status gizi. Ketersediaan air bersih sangat berhubungan dengan kejadian kurang energy protein khususnya pada anak balita (WHO,

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan makanan. Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh (Almatsier, 2004). Akibat yang terjadi apabila kekurangan gizi antara lain menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi), terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kekurangan energi yang dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya seseorang dalam menerima pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi (Achmad djaeni, 2008).

Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang. Hal ini dapat terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan yang kurang mengenai gizi dan perilaku belum sadar akan status gizi. Contoh masalah kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan Energi Protein), GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), Anemia Gizi Besi (AGB) (Apriadji, 2010).
Faktor yang mentebabkan gizi kurang telah diperkenalkan UNICEF dan telah digunakan secara internasional, yang meliputi beberapa tahapan penyebab timbulnya kurang gizi pada anak balita, baik penyebab langsung, tidak langsung, akar masalah dan pokok masalah. Menurut Soekirman dalam materi Aksi pangan dan Gizi Nasional (Depkes, 2005), penyebab kurang gizi dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau demam dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang makannya tidak cukup baik maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Kenyataannya baik makanan maupun penyakit secara bersama- sama merupakan penyebab kurang gizi. 

  2. Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental dan sosial. Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan adalah tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh anggota keluarga. 
 

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..