Masalah Upaya Kesehatan Di Indonesia

 

Ada empat komponen yang layak didiskusikan dalam pembahasan upaya kesehatan di Indonesia, yaitu :

  1. kebutuhan pelayanan kesehatan;
  2. jenis-jenis pengobatan dan penyembuhan;
  3. pendekatan multidisipliner dan interdisipliner dalam strategi pengembangan kesehatan
  4. target yang ingin dicapai.

 

Pertama, komponen kebutuhan pelayanan kesehatan.

Ledakan penduduk begitu cepat dari ± 180 juta di tahun 1995, hingga tahun 2010 mencapai 230 juta jiwa. Memenuhi kebutuhan termasuk kesehatan mereka merupakan beban berat. Jenis penyakit meliputi infeksi menular berupa tuberkulosis paru, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), malaria, diare, penyakit kulit, polio, filariasis, kusta dan pneumonia. Pada saat bersamaan muncul penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah (gangguan sirkulasi), serta diabetes mellitus dan kanker. Sementara itu Indonesia juga diterpa penyakit dadakan ”emerging diseases” seperti demam berdarah ”dengue” (DBD), HIV/AIDS, Chikunguya, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dengan Flu Burung dan Flu Babi. Tingkat keparahan ada yang ringan dan berat, kronis dan akut. Kesemuanya ini melengkapi transisi epidemiologi Indonesia ke beban ganda (double burdens). Konsekuansinya perlu penemuan berbagai obat yang tepat, memadai dan terjangkau. Menghendaki fasilitas dan pranata kesehatan lengkap : Puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan, klinik dan sejenisnya hingga Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai pranata pelayanan kesehatan terakar rumput produk kerja sama masyarakat dengan pemerintah. Dari kegiatan diagnosa penyakit, menuntut peralatan medis lengkap. Baik laboratorium, alat rontgen, radiologi maupun instrumen lainnya. Tim medis dan terapi, membutuhkan sejumlah dokter, para medis, ahli kesehatan masyarakat, ahli gizi, ahli teknologi peralatan kesehatan, farmakolog, psikolog telaten, terampil dan memadai. Regenerasi pengobat, penyembuh dan pengembang ilmu kedokteran dan kesehatan memerlukan lembaga pendidikan yang sempurna serta lengkap, seperti fakultas-fakultas kedokteran dan psikologi, sekolah tinggi atau akademi : keperawatan, kebidanan, dan farmasi. Akademi atau sekolah analis kesehatan atau pula sekolah asisten apoteker, pendidikan penataan rontgen, pendidikan komputer dan lainnya. dari keluasan kondisi, letak wilayah cakupan kesehatan, kelancaran tugas, diperlukan sarana dan prasarana jalan, alat transportasi, penerangan serta jaringan komunikasi efektif.

Kedua, jenis pengobatan dan penyembuhan.

Keanekaragaman pengobatan dan penyembuhan yang hidup dalam masyarakat memerlukan pendekatan tepat untuk didayagunakan. Ada jenis pengobatan dan penyembuhan yang muncul dari kepercayaan ilmiah mendasarkan rasionalitas logis, bertolak dari pengujian laboratorium tentang bakteri, mikrobiologi, kimiawi, rontgen, radiologi, dan lain-lain. Model ini dianut dokter dan para medis, bersumber dari sistem medis modern. Ada jenis pengobatan dan penyembuhan berakar dari kepercayaan gaib, magis dan religiusitas, bertolak dari kepercayaan campur-tangan agen nirnyata (supernatural) tentang penyebab penyakit. Pengobatan dan penyembahan ditekankan pada keharmonisan hubungan atau pengusiran agen penyakit itu. Model ini dianut para penyembuhnya dengan pelbagai sebutan yaitu dukun, orang pintar, kiai, para normal, prana, dll. Model ini dilabelkan medis tradisional. Di samping ke dua jenis tersebut, ada pengobatan datang dari pengetahuan masyarakat umum tentang penyakit dan obat-obat tertentu yang dikerjakan sendiri atau anggota keluarga lainnya. Baik melalui obat-obat bebas yang diperdagangkan di apotik, depot obat atau warung, maupun obat dari tumbuh-tumbuhan, hewan atau mineral tertentu dari bahan yang tersedia di lingkungannya (tanaman obat keluarga ”Toga”). Ini yg disebut dengan pengobatan sendiri atau pengobatan keluarga (self atau home treatment). Sumber pengetahuan tentang khasiat dan cara penggunaannya diperoleh dari orang tua-tua sebelumnya secara turun-temurun atau dari mulut ke mulut kerabat maupun tetangganya. Berarti antara sistem medis modern dengan sistem medis tradisional (penyembuh lokal/mengobati sendiri), karena sama-sama hidup di masyarakat Indonesia, memerlukan pemecahan pengembangan masing-masing di satu sisi, upaya integrasi, terpadu, likuidasi, penyandingan, koordinasi serta legalisasi di sisi lain. Sekaligus menyangkut penelitian eksistensi, efektivitas, sosialisasi, regulasi legalitas, hingga pembudayaan.

Tentu diperlukan keterbukaan pintu hati ahli-ahli ilmu kesehatan dan kedokteran modern, medis tradisional, hukum, agama, sosial, bersama menjembatani perbedaan kepercayaan, metode dan pendekatan masing-masing sistem medis tersebut sebagai suatu kekuatan besar dalam dunia medis Indonesia dengan mengabaikan ego sentris medis masing-masing, sepanjang penggunaan lintas medis itu real fungsional dan strukturisasi serta aksiologinya.

Ketiga, segi pendekatan multidisipliner dalam strategi kesehatan.

Perkembangan visi, misi, tujuan, strategi dan program kesehatan bergeser dari orientasi kedokteran yaitu penyakit “Diseases“, kepada orientasi kesehatan “hygiene” yang arah pembinaannya menjadi lebih luas ”fitness to wellness whell”. Pembinaan kesehatan dipusatkan kepada kualitas kesehatan masyarakat yang kawasannya eco-socio-religio-cultural masyarakat. Konsep kesehatan diserasikan dengan konsep lingkungan- sosial-agama-budaya lokal atau modal dasar masyarakat ”local wisdom and social capital”. Masalah kesehatan tidak ditangani Dokter, Para Medis dan Apoteker serta Analis, Perawat, Bidan, Ahli Kesehatan Masyarakat semata, tetapi bekerja sama dengan ahli ilmu sosial budaya dan agama ”medico team worker”. Baik itu ahli ekonomi, geologi, teknologi, hukum, sosiologi, bahasa, agama, dan antropologi serta disiplin terkait lainnya. Bagaimana cara, pendekatan, model, dan penataan kerja sama di antara tenaga-tenaga ahli di bidang masing-masing sampai terintegrasi merupakan masalah yang membutuhkan pemecahan serius. Termasuk pemecahan kendala koordinasi struktur dan fungsional serta jangkauan teritorial.

Keempat, segi target yang ingin dicapai.

Upaya kesehatan bagian dari kesejahteraan hidup manusia Indonesia seutuhnya, harus berwujud tahapan-tahapan kemajuan terukur yang hendak dicapai. Seperti digariskan WHO ”Kesehatan untuk semua tahun 2000: Health for all in 2000 years”. Cakupannya meliputi Penanggulangan jenis penyakit, pemenuhan gizi, kesehatan lingkungan, keluarga berencana dan kependudukan yang baik, penanganan penyakit akut dan kronis, faktor-faktor psiko-sosio-budaya dan agama dalam penyakit infeksi, masalah kesehatan dan keabnormalan jiwa, temuan teknologi baru untuk semua kegiatan kesehatan, sanitasi dan vaksinasi, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian sistem kesehatan serta berbagai penelitian dan pengembangan yang dibutuhkan. Semua ini membutuhkan penanganan serius, pendanaan, kerja sama ahli antardisiplin serta partisipasi warga berbagai kalangan. Bahkan memerlukan bantuan masyarakat internasional (Rukmono, 1982: 26; Naggar, 1986: 15).

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..