Mengenal Kopi Lanang

 

Jika Anda termasuk golongan yang menyukai kopi-kopi langka, maka kopi lanang bisa menjadi salah satu pilihan tepat. Kopi lanang –bahasa dagang Internasionalnya kopi peaberry– adalah biji kopi pasca panen yang mengalami anomali atau kelainan. Meski terlihat ‘tidak normal’, biji kopi lanang tidak serta merta berarti cacat atau tak layak konsumsi. Sebaliknya, anomali pada kopi lanang justru punya keistimewaan tersendiri untuk dinikmati.

Pertama-tama, anomali kopi lanang bisa dilihat pada bentuk bijinya. Bentuk “aneh” ini sudah bisa diidentifikasi sejak pemetikan dan biasanya mulai dipisahkan pada proses sortir.

Apabila kulit ceri kopi (dari pohon yang sama) dikupas, ada dua kemungkinan isi biji. Pertama, satu biji kopi lanang (monokotil). Kedua, dua biji kopi pada umumnya (dikotil). Apa bedanya? Biji kopi lanang berbentuk hampir bulat melonjong seperti kacang dan cenderung utuh tanpa terbelah. Bentuk ini tentu berbeda dengan biji kopi pada umumnya, yang pipih pada satu bagian dan cembung pada bagian lainnya – seperti biji kacang yang terbelah.

Mengapa kopi lanang bisa disebut kopi anomali dan apa penyebabnya? Menurut Badan Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Litbang Kementerian Pertanian, ada beberapa penyebab munculnya kopi lanang, seperti:

  1. Tidak optimalnya penyerbukan putik bunga akibat serangga atau angin
  2. Adanya malnutrisi atau ketidakseimbangan distribusi zat makanan pada saat pembuahan
  3. Umur pohon kopi sudah di atas 10 tahun yang mengakibatkan penurunan kemampuan penyerbukan secara alami
  4. Kelainan genetika

Sampai titik ini, sudah diketahui bahwa kopi lanang merupakan kopi hasil proses alami. Tidak menggunakan rekayasa apapun.

Kopi Peaberry

Jangan berpikir kalau kopi lanang berasal dari dari spesies dan varietas tanaman kopi tertentu. Mau itu arabika, robusta atau jenis lainnya, semuanya memungkinkan adanya kandungan biji kopi lanang ini. Hanya saja, jumlah kopi lanang yang diproduksi dalam satu kali panen biasanya lebih sedikit.

Dalam sekali panen ceri kopi, biasanya jumlah kopi lanang hanya berkisar 5-10%. Dalam 1 kilogram rata-rata terdapat 0,5 ons. Kalau tertarik memboyong 1 kilogram kopi lanang, tinggal kalikan saja kelipatannya. Nanti akan keluar hasil kira-kira berapa kilogram kopi biasa yang diperlukan untuk memperoleh 1 kilogram kopi lanang.

Meski namanya belum sama kondang dengan single origin, toh kopi lanang masih bisa bersaing di pasar. Kopi lanang yang telah disangrai bisa memiliki harga relatif lebih mahal, yakni sekitar Rp 250 ribu per kilogram. Kopi ini bisa dibandrol segitu mahal karena proses sortir yang lebih teliti dan lama ketimbang biji kopi biasa. Angka ini pun berada di atas harga kopi bukan lanang yang berkisar pada kisaran Rp 100 ribu.

Kenya Kirinyaga Gachami Peaberry yang telah disangrai

Harga kopi lanang juga menyesuaikan dengan jenis kopinya. Antara arabika dengan robusta bisa berbeda. Menariknya, harga kopi lanang bisa melangit hingga mencapai Rp 1 juta kalau bijinya melalui proses pencernaan luwak liar. Kalau ingin agak murah, pilihlah kopi lanang hasil pencernaan luwak kandang.

Lantas, apakah kualitas kopi lanang lebih baik dari kopi biasa? Relatif. Soal aroma dan rasa, itu selera konsumen masing-masing. Namun beberapa iklan menyebut kopi lanang memiliki rasa yang lebih lembut, teksturnya padat, aromanya mirip-mirip kopi luwak, kafeinnya lebih tinggi 2,1% dari kopi biasa dan—menurut anggapan di beberapa daerah di Indonesia—bisa meningkatkan daya alat vital laki-laki. Percaya? Nah, itu tugas Anda sendiri yang membuktikannya. Hehe.

*Sumber : Otten coffee

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..