Merakyatkan Kopi Spesial Indonesia

Sudah beberapa tahun ini kopi Indonesia bergerak ke arah yang jauh lebih baik, dimana kualitas kopi Arabika maupun Robusta diproses dengan sangat baik yang tentunya menghasilkan rasa yang tidak monoton sebagaimana terjadi pada tahun-tahun lampau. Memang sudah saatnya orang Indonesia mendapatkan kualitas kopi yang lebih baik dari sisi rasa dan juga macamnya, jika kita menoleh sebentar ke masa yang lalu, sebut saja 10 tahun lalu, kopi Indonesia tidak banyak dijual sebagai varian kopi dari specific daerah geografisnya, kopi indonesia hanya dijual dengan varian Kopi Arabika, Kopi robusta atau juga Kopi campuran dari keduanya.

Pengalaman saya di masa lalu melihat bapak saya selalu berbelanja kopi ke pasar tradisional Jatinegara untuk memilih kopi Arabika dan juga Robusta kesukaannya, di kios tersebut kopi di perjual-belikan baik yang masih biji atau sudah digiling di kiosnya, jelas jaman dahulu belum ada yang jual Latina atau Baratza grinder seperti saat ini, jadi pastinya hampir seluruh pembeli memilih digiling untuk kembali diolah menjadi secangkir kopi nikmat di rumah masing-masing termasuk bapak saya yang selalu dibuatkan kopi oleh ibu saya, kopi tubruk dengan jumlah gula yang sesuai takaran “pas” adalah rasio kopi, air dan gula pada saat itu, tidak perlu ditimbang dengan hario scale atau timbangan high end lainnya hanya mengandalkan sendok teh dan gelas belimbing. Saya pun merasakan setelah masuk ke dunia hitam ini pada awalnya hanya mengandalkan kopi sachet untuk belajar mengindentifikasi perbedaan rasa kopi, bahkan sempat mengkoleksi bungkus kopi dari pabrikan kopi di beberapa kota di Indonesia, sulit menemukan biji kopi yang bisa diolah segar dengan digiling sebelum diseduh terlebih dahulu, kalau pun ada itu adalah kopi dari pabrikan Italy yang jelas mahal dan sebagai mahasiswa tentunya lebih memilih yang terjangkau untuk ngopi, sampai akhirnya saya bisa menemukan kopi biji dengan kualitas yang sangat baik itu pun karena saya sudah bekerja jadi bisa perlahan menyisihkan uang untuk membeli 100gr biji kopi segar Java Jampit dari roaster yang sampai saat ini sangat konsisten dalam hal kualitas kopi yaitu Caswell coffee, seingat saya sekitar 25.000-30.000 Rupiah per 100gr atau 50.000-60.000 Rupiah per seperempat kilo nya.

Saat itu pula tempat nongkrong ngopi yang menyuguhkan kopi special ya hanya mereka tentunya ataupun jika ada yang lain mungkin luput dari perhatian saya, maklum budget ziarah kopi saya masih minim 🙂 , nah jika saya lihat saat ini semua kafe atau tempat ngopi yang mengusung kopi special sudah bisa ditemukan disetiap sudut daerah di jabodetabek mereka membuat pelanggannya bisa memilih kopi-kopi dari negri ini atau pun luar negri, bahkan kopi-kopi yang diroast oleh roaster kenamaan dunia sudah bisa di nikmati dibeberapa kafe baik Jakarta atau Bandung, tinggal pilih lah pokoknya. Namun jauh di lubuk hati saya bertanya apakah kopi specialty saat ini sudah benar menyentuh lapisan yang punya budget ngopi secukupnya, bagi mereka tentunya kopi adalah menu wajib setiap harinya namun apa daya dengan budget seadanya mungkin sebagian besar masyarakat kita masih lebih pede ngopi di warung Indomie yang berkisar 3000-4000 percangkir nya, ironis nya dimana sebagian besar orang sudah banyak melakukan penyebaran informasi kopi tetapi membuat kopi specialty ini malah semakin “mahal” sehingga membuat para pabrikan kopi sachet mendulang rejeki dengan konsep kopi sachet ala cafe dengan membuat varian minuman-minuman di cafe yang dikemas sederhana dan dijual tidak lebih dari 3000 per sachet, sebut saja varian kopi mocha, cappuccino, latte dan lainnya.

Saya pun merasakan di beberapa kafe harga kopi hitam seduh manual bisa mencapai 65.000 Rupiah per cangkir, alasan sewa tempat yang mahal bisa diterima sehingga mereka membandrol harga kopi sebegitu mahalnya, namun kenyataan nya kopi-kopi yang dibandrol mahal tersebut disajikan sudah melewati batas kesegaran kopi atau bisa disebut sudah apek, apa pantas di bandrol segitu mahal, disini saja berfikir bahwa dengan menjamur nya kedai kopi diseluruh negri ini tidak diiringi dengan konsep yang merakyat atau bisa disebut membuat kopi hitam specialty bisa mudah terjangkau baik harga ataupun tempatnya dan pastinya kualitas rasa sebagai rujukan nomor satu dalam menjalankan bisnisnya.

Teman-teman kita yang masih mahasiswa mungkin banyak yang ingin kebiasaan ngopi ala warung indomie-nya dialihkan ke kualitas rasa special dengan harga yang terjangkau atau juga para pegawai yang setiap hari hilir mudik harus ke warung indomie demi mendapatkan secangkir kopi sachet juga punya hak yang sama dengan kita untuk menikmati kopi, ide gila ini berawal dari warung Indomie di depan kantor yang setiap pagi hampir saya kunjungi untuk memenuhi keinginan perut dengan semangkok Indomie dengan beberapa gorengan, hampir seluruh pengunjung warung yang diberi judul cafe 12 jam itu memesan secangkir kopi baik hitam + gula atau kopi sachet ngawur dengan bungkus putihnya 🙂 , ditempat tersebut saya coba bermimpi jika warung seperti itu menyuguhkan kopi special yang jika kita ramu biaya bahan bakunya hanya 1400-2000 perak (baca: Rupiah) per cangkir untuk specialty Arabika dan 800-1000 perak untuk fine robusta dan dijual dengan harga yah 4000 perak mungkin bisa jadi kopi special baik arabika atau robusta akan lebih menjamur kelevel masyarakat yang lebih luas 🙂 .

Coba ayo kalian pikirkan yah peluang bisnis baru mungkin 🙂 .

*Sumber : Mirza Luqman Effendy | WordPress

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..