Minumlah Kopi Tanpa Gula

Saya memang tak pernah menambahkan gula kepada kopi-kopi seduh manual atau sekalipun espresso yang saya minum tidak serta merta menjadi acuan bahwa itu adalah patokan baku tentang minum kopi yang benar. Minum kopi sejatinya adalah selera dan pilihan pribadi masing-masing orang yang meneguknya. Jika seseorang lebih menyukai kopi instan atau kopi gosong yang dicampur pemanis buatan, ya itu urusan mereka dan perutnya.

Namun jika kita bicara tentang gagasan kopi spesialti, terutama jika melihat semakin hari orang pun semakin melek terhadap pengetahuan kopi, maka urusan yang barangkali sesepele menambahkan gula ke minuman kopi di sini bukan berarti jadi serta merta menghakimi selera minum orang lain. Tolonglah. Kopi spesialti – baca di sini – merupakan sebuah wilayah saintifik dengan berbagai penjelasan rasional pada setiap komponennya. Mengapa topik ini menjadi pembahasan yang kontroversial hingga saat ini?

Tentang kopi spesialti

Kopi, terutama kopi-kopi spesialti, pada dasarnya tidak dibuat dalam hitungan menit namun jauh sebelum itu. Kopi yang Anda nikmati dengan penuh gaya di kedai-kedai kopi keren di kota besar sesungguhnya dihasilkan dan dikerjakan selama berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dengan kerja keras. Apalagi jika konsepnya adalah kopi spesialti.

Dalam rantai kopi spesialti, setiap komponen dan bagian yang terlibat di dalamnya benar-benar fokus untuk mengeluarkan semua karakter terbaik dari biji kopi itu mulai dari cita rasa, aroma dan bahkan rasa-rasa yang tetap tertinggal di lidah bernama aftertaste setelah Anda menghabiskan tegukan terakhir. Setiap biji kopi tentu tidak sama, masing-masing memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri yang menjadikan kopi itu berbeda dan spesial.

Keunikan masing-masing kopi ini dihasilkan oleh berbagai faktor, diantaranya seperti varietal atau jenis kopi, kondisi tanah dimana kopi itu ditanam, ketinggian tanamnya, penggunaan pupuk (entah organik atau tidak), proses pengolahan kopi, dan seterusnya. Selanjutnya, kopi-kopi mentah (green bean) ini akan disangrai oleh seorang roaster dimana mereka akan melakukan beberapa kali uji coba sebelum mendapatkan profil roasting yang tepat – yang bisa mengeluarkan semua karakter terbaik dari masing-masing jenis kopi. Fase berikutnya, pemilik kedai kopi, atau umumnya kepala barista, harus menciptakan semacam ‘resep’ yang bisa membuat karakter terbaik dari kopi tadi semakin tegas dan dapat dinikmati dengan jelas.

Menambahkan gula kepada kopi yang telah diusahakan dengan kerja keras ini, bukan hanya membuat kopi menjadi lebih manis. Tapi juga menenggelamkan kompleksitas petunjuk rasa seperti notes atau hint yang berwujud halus dan mungkin saja terkandung di dalam kopi itu. Dengan kata lain, gula jadi merusak keseimbangan rasa yang telah susah payah dikeluarkan sejak fase awal tadi.

Di kacamata seorang barista (spesialti), kopi itu adalah sebuah kesempurnaan. Ketika Anda menambahkan gula ke dalamnya, maka itu bukan lagi minuman yang sama.

 

Lalu bagaimana solusinya?

Kopi bukan minuman yang otoriter. Jika Anda tidak (atau belum) bisa mentolerir rasa pahit pada kopi, minuman ini masih tetap memiliki banyak menu dan varian yang bisa dipilih sesuai dengan kapasitas lidah Anda. Jika tidak tahan pahit, maka jangan pilih espresso. Sebaiknya pilih menu-menu berbasis espresso yang ditambahkan susu sebagai pengganti gula seperti cappuccino, latte, flat white, dan sebagainya. Tidak perlu memesan espresso agar terlihat keren, dan tidak perlu malu memesan cappuccino karena takut diledek para coffee snob—kadang saya malah memesan frappuccino kalau kepengin.

Atau solusi lain, cobalah memesan kopi-kopi seduh manual yang umumnya lebih ringan. Anda bisa bertanya kepada barista penyeduhnya mengenai kopi apa yang mungkin tersedia dan memiliki karakter lebih manis dan light. Cobalah menikmatinya sedikit demi sedikit sambil meresapi berbagai karakter istimewa yang ada di dalamnya, karena kopi seduh manual sejatinya memang dinikmati dengan santai dan tidak diteguk terburu-buru.

Sebagai pemilik kedai, atau barista, salah satu cara untuk mengedukasi pelanggan tentang ini misalnya dengan memberi saran kepada mereka. Jika Anda yakin telah meracik espresso dan kopi terbaik, tidak ada salahnya menyarankan mereka, para pelanggan, untuk mencicipi dulu kopi buatan Anda sebelum menambahkan gula, sambil mempersuasi mereka tentang karakter-karakter istimewa yang ada dalam kopi tersebut. Mungkin ada yang tetap tengil dan tetap menambahkan gula ke dalamnya, ya sudahlah. Mungkin hidup mereka terlalu pahit sehingga perlu dibuat sedikit manis. Namun pelanggan tetap yang datang secara berkala dan teratur umumnya akan lebih mudah diedukasi. Sebuah studi di kedai-kedai kopi besar di Amerika menemukan umumnya pelanggan tipe ini akan mengurangi konsumsi gula mereka dari waktu ke waktu setelah rutin diedukasi oleh baristanya.

Selamat minum kopi – tanpa gula.  😉 

*Sumber : Otten coffee

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..