Penilaian Status Gizi

Gizi merupakan salah satu faktor penentu kualitas sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas dan produktif. Untuk itu program perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, agar terjadi perbaikan status gizi masyarakat. Status gizi itu sendiri adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang di indikasikan oleh berat badan dan tinggi badan (Depkes RI, 2011).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia (RISKESDAS) 2010 sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek. Prevalensi gizi kurang pada tahun 2010 menurun menjadi 17,9%, yaitu ada 900 ribu diantara 2,2 juta balita di Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk. Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90% kontribusi masalah gizi dunia.

Indonesia saat ini menduduki peringkat kelima di dunia dalam status gizi buruk. Prevalensi gizi kurang menurun secara signifikan dari 31% (1989) menjadi 17,9% (2010). Demikian pula prevalensi gizi buruk menurun dari 12,8 % (1995) menjadi 4,9% (2010). Kecenderungan ini menunjukan target penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk menjadi 15% dan 3,5% pada 2015, diharapkan dapat tercapai. Untuk itu perlu perhatian khusus yang serius atas Status Gizi di Indonesia.

Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005). Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2005). Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji, 2007).

Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energy yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007).

Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix, 2005). Hal ini terjadi karena jumlah energi yang masuk melebihi kecukupan energi yang dianjurkan untuk seseorang, akhirnya kelebihan zat gizi disimpan dalam bentuk lemak yang dapat mengakibatkan seseorang menjadi gemuk.

Status gizi adalah keadaan keseimbangan Antara asupan (intake) dan kebutuhan (requirement) zat gizi. Untuk menilai status gizi seseorang atau masyarakat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Penilaian status gizi (Nutritional Assessment), menurut Rosalind S, Gibson, didefinisikan sebagai interprestasi dari informasi yang diperoleh dari diet, biokimia, antropometri dan klinis (The Interpretation of Information Obtained from Dietary, Biochemical, Anthropometric and Clinical Studies). Informasi tersebut digunakan untuk menetapkan status gizi individu atau kelompok populasi yang dipengaruhi asupan dan penggunaan zat gizi. Sistem penilaian status gizi dapat berupa tiga bentuk : survey, surveylance, atau screening.

  1. Survey Gizi (Nutrition survey)
Status gizi dari kelompok populasi tertentu dapat dinilai dengan cara “cross-sectional survey”. Survey ini dapat menyediakan data dasar gizi dan juga menetapkan status gizi masyarakat.
Dengan cross sectional survey dapat juga untuk mengidentifikasi atau menjelaskan kelompok populasi yang berada dalam resiko (at risk) terutama terhadap malnutrisi kronis dan akut serta menyediakan informasi tentang kemungkinan adanya malnutrisi. Dengan demikian berdasar survey ini dapat dipersiapkan dukungan sumber daya yang dibutuhkan dan pembuatan kebijakan yang diperlukan.
  2. Surveilans gizi (Nutrition Surveylance)
Ciri gambaran surveilans adalah monitoring terus menerus dari status gizi suatu kelompok populasi. Berbeda dari survey gizi, pada surveilans gizi data dikumpulkan, dianalisi dan digunakan untuk suatu periode waktu yang luas. Surveilans gizi menjelaskan kemungkinan penyebab malnutrisi dan dapat digunakan untuk membuat formulasi dan intervensi awal pada kelompok populasi sehubung dengan prediksi dan kecenderungan yang terjadi serta evaluasi efektifitas program gizi.
  3. Penapisan gizi (Nutrition Screening)Identifikasi kekurangan gizi secara individual bagi yang memerlukan atau tidak memerlukan intervensi gizi dapat dilakukan dengan cara skrining gizi. hal ini termasuk perbandingan pengukuran seseorang dengan menetapkan tingkatan resiko atau penetapan ambang batas (cutoff point). Skrining dapat dilakukan pada tingkatan individu atau pada sekelompok populasi spesifik yang menanggung resiko, seperti pada program pemberian makanan tambahan pada balita. Pada umum nya program skrining tidak dilakukan secara menyeluruh.

Ketiga macam penilaian gizi tersebut da adopsi kedokteran klinis untuk menilai status gizi bagi mereka yang perlu perawatan. Penilaian status gizi bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai metode penilaian status gizi, memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kelemahan dari beberapa metode yang ada dan memberikan gambaran singkat mengenai pengumpulan data, perencanaan dan implementasi untuk penilaian status gizi (Hartriyanti dan Triyanti,2007).

Ada tiga macam kondisi dalam penilaian status gizi :

  1. Ditujukan untuk perorangan atau kelompok masyarakat
  2. Pelaksanaan pengukuran satu kali atau berulang secara berkala
  3. Situasi dan kondisi pengukuran baik perorangan atau kelompok 
masyarakat pada saat krisis, darurat, kronis dsb. 


Beberapa penilaian status gizi dapat diaplikasikan seperti :

  1. Screening atau penapisan yaitu penilaian status gizi perorangan untuk keperluan rujukan, dari kelompok masyarakat atau dari puskesmas, dalam kaitannya dengan tindakan atau intervensi.
  2. Pemantauan pertumbuhan anak, dalam kaitannya dengan kegiatan penyuluhan.
  3. Penilaian status gizi pada kelompok masyarakat, yang dapat digunakan untuk mengetahui hasil dari suatu program, sebagai bahan perencanaan program atau penetapan kebijakan.

Dalam penelitian status gizi masyarakat atau kelompok masyarakat terdapat dua hal yang mendasar. Yang pertama adalah penyelidikan dimaksudkan untuk mengetahui status gizi masyarakat keseluruhan, yang kedua adalah untuk menetapkan status gizi individu pada masyarakat atau kelompok masyarakat.

Penilaian status gizi individu meliputi tiga metode utama yaitu:

  1. Studi dietary yang membandingkan masukan zat gizi dengan standar, dan membantu menerangkan kemungkinan sebab pada pemeriksaan klinis dan laboratorium.
  2. Studi klinis yang menilai tanda dan gejala fisik dari kesehatan gizi atau penyakit.
  3. Pemeriksaan laboratorium yang memeriksa secara biokimia zat gizi dalam tubuh, dalam berbagai derajat dan ketepatan.

Teknik tersebut dapat digunakan secara terpisah atau bersama, tergantung pada individu, biaya dan sarana prasarana yang tersedia. Sedangkan untuk penilaian status gizi masyarakat mungkin merupakan metode praktis yang paling banyak dikenal, untuk memperoleh gambaran status gizi masyarakat yang bersangkutan. Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi masyarakat. dengan indikator seperti faktor tersedianya pangan dan gizi, ekologi dan lingkungan dalam arti luas, yang mempengaruhi kualitas hidup pada umumnya. Untuk itu perlu diketahui masalah demografi, geografi, budaya dan epidemologi penyakit.


Pengukuran status gizi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung maupun tidak langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik (supariasa, 2007)

  1. Antropometri; Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 2005). Metode antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Akan tetapi, antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat gizi yang spesifik (Gibson, 2005).
  2. Klinis
Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi 
berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata, kulit, rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
  3. Biokimia 
Pemeriksaan disebut juga cara laboratorium, yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan menggunakan uji gangguan fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya konsekuensi fungsional dari suatu zat gizi yang spesifik Untuk pemeriksaan biokimia sebaiknya digunakan perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan fungsional (Baliwati, 2004).
  4. Biofisik
 Pemeriksaan; Biofisik Pemeriksaan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2005).

Dan penilaian Status Gizi secara Tidak Langsung adalah sebagai berikut,

  1. Survei Konsumsi Makanan; Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi, sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati, 2004).
  2. Statistik Vital
; Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
  3. Faktor Ekologi
; Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan budaya. Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2005).

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..