Peran Kesehatan Dalam Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Produk Domestik Brute (GNP) merupakan salah satu ukuran yang umum digunakan untuk mengukur nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian. Pada pengukuran GNP, aspek kuantitas lebih ditekankan daripada aspek kualitas, sehingga program-program di bidang kesehatan dan pendidikan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas SDM agak sulit untuk dihitung secara langsung. Dalam bentuk suatu fungsi produksi, GNP sebagai output merupakan fungsi dari dua input utama yaitu tenaga kerja dan modal.

Penelitian yang dilakukan oleh Schultz dan Denison (1960-1962) menunjukkan bahwa 20% pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat untuk beberapa dasa warsa disebabkan oleh perbaikan tingkat pendidikan. Sementara perbaikan derajat kesehatan masyarakat akan meningkatkan tingkat partisipasi dan produktivitas tenaga kerja serta tingkat partisipasi pendidikan yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Mushkin (1962) menyatakan bahwa penurunan tingkat kematian pada tahun 1900 di Amerika Serikat mempengaruhi peningkatan GNP sebesar 60 Milyar dollar AS pada tahun 1960, karena adanya pertambahan tenaga sebanyak 13 juta jiwa. Sedangkan penurunan tingkat kematian sejak tahun 1920 menyebabkan kenaikan GNP sebesar 28 Milyar dollar AS dalam tahun 1960 (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994).

Pada negara-negara berkembang yang umumnya masih bersifat agraris, perkembangan output di sektor pertanian memegang peranan yang sangat penting. Hasil analisis makro ekonomi yang dilakukan oleh Malenbaum (1970) di 22 negara berkembang terutama India, Muangthai dan Meksiko yang relatif memiliki tenaga kerja sangat besar menunjukkan bahwa derajat kesehatan sangat mempengaruhi output sektor pertanian. Dalam analisis ini, output sektor pertanian dianggap sebagai variabel tidak bebas (dependent variable) dan ukuran-ukuran kesehatan seperti tingkat kematian bayi dan rasio dokter dengan penduduk , serta ukuran-ukuran ekonomi dan sosial seperti tenaga kerja, pupuk komersial dan angka melek huruf sebagai variabel bebas (independent variable). Dari persamaan regresi tersebut diperoleh R2 = 0,62 dimana hampir 80% berasal dari variabel-variabel kesehatan dan 2% dari tingkat melek huruf. Hasil penelitian ini dikritik oleh Weisboard (1971) yang menyatakan bahwa persamaan regresi tersebut tidak dispesifikasi secara benar, karena variabel rasio dokter dengan penduduk berupa input sedangkan variabellain dalam bentuk output. Walaupun demikian, para peneliti tersebut sepakat sepakat bahwa derajat kesehatan yang baik akan merangsang keinginan untuk meningkatkan produktivitas dan mengubah sikap ke arah aktifitas yang lebih bersifat kewiraswastaan sehingga mendorong terjadinya peningkatan kreatifrtas. Oleh karena itu, implikasi kebijakan di bidang kesehatan menjadi lebih jelas, bahwa bila jangkauan kesehatan masyarakat diperluas maka kemungkinan besar hasil (output) akan bertambah besar dan perekonomian suatu wilayah akan bertambah baik. Dalam hal ini, aspek pemerataan dan pelayanan yang komprehensif (menyeluruh) memegang peranan penting.

Pengaruh dari program-program kesehatan dan gizi terhadap produktivitas yang kemudian akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dikemukakan secara jelas oleh Cesario, Simon dan Kinne (1980). Ketiga peneliti tersebut menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat akan mempengaruhi GNP melalui 2 (dua) cara yaitu melalui pertumbuhan ekonomi dan melalui bidang pendidikan. Pertumbuhan ekonomi terjadi oleh karena perbaikan derajat kesehatan masyarakat dapat menurunkan tingkat kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) khususnya bagi penduduk usia kerja, sehingga akan meningkatkan partisipasi bagi yang belum bekerja dan meningkatkan hari kerja bagi yang sedang melakukan kegiatan Selain itu, perbaikan kesehatan pada tenaga kerja akan meningkatkan efisiensi kerja melalui peningkatan kemampuan individualnya. Sedangkan pengaruh melalui bidang pendidikan terjadi oleh karena perbaikan derajat kesehatan penduduk usia muda akan berpengaruh pada peningkatan GNP di masa depan. yang terjadi sebagai akibat perubahan di bidang pendidikan. Penurunan morbiditas dan mortalitas akan meningkatkan kehadiran dan hasil (performance) di lembaga-lembaga pendidikan. Walaupun demikian, perbaikan derajat kesehatan masyarakat dapat pula menimbulkan pengaruh negatif terhadap GNP dengan pertumbuhan penduduk yang cepat (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994). Sementara itu secara teoritis, dikatakan juga bahwa semakin tinggi GNP suatu negara, maka akan semakin terpenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya termasuk pendidikan dan kesehatan. Penelitian tentang hubungan antara tingkat kematian bayi (infant mortality rate) dengan pertumbuhan GNP di Indonesia yang dilakukan oleh Amin (1983) dengan menggunakan data time series selama 14 tahun mulai tahun 1969 menunjukkan hasil sebagai berikut :

IMR =175,6098 – 0,9965 GNP

(10,8300) ……..t-statistic

R2 =0,93

Dengan menggunakan GNP menurut harga konstan 1973, tampak bahwa pengaruh kenaikan GNP terhadap penurunan IMR hanya memiliki koefisien yang sangat rendah, sehingga bila pada tahun 1988 GNP Indonesia diharapkan meningkat menjadi Rp. 16247 miliar dengan asumsi laju pertumbuhan ekonomi selama Repelita IV mencapai rata-rata 5% setahun, maka IMR diperkirakan akan turun menjadi 70 ┬▒ 4,38. Jadi IMR pada tahun tersebut akan berkisar antara 65,62 sampai 74,38 per-seribu kelahiran hidup. Akan tetapi, perlu diingat masih banyak faktor lain di luar pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat serta kemungkinan bahwa bukan pertumbuhan tetapi distribusilah yang lebih berpengaruh.

Salah satu isu utama dari penghitungan pendapatan nasional adalah menjadikannya indikator dari perubahan-perubahan kesejahteraan penduduk dari waktu ke waktu atau perbedaan kesejahteraan antar daerah. Beberapa kesulitan dalam penghitungan tersebut adalah :

  1. Tidak seragamnya kualitas data di antara industri-industri dan antar daerah
  2. Pengabaian beberapa item seperti tidak dihitungnya nilai uang kegiatan-kegiatan non pasar
  3. Pengabaian bahwa distribusi pendapatan rata-rata per kapita yang sama mungkin memiliki pola distribusi yang berbeda yang berarti tingkat kesejahteraan yang berbeda.

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..