Peta Tantangan Kesehatan Indonesia

 

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, Indonesia menghadapi masalah triple burden of diseases. Pada saat penyakit menular masih menjadi masalah (ditandai dengan masih sering terjadi KLB), beberapa penyakit menular lama muncul kembali (re-emerging diseases) seperti frambusia, kusta, filariasis dan schistosomiasis. Disamping itu, penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases) seperti HIV/AIDS, Avian Influenza, Flu Babi dan Penyakit Nipah juga bermunculan. Di sisi lain, penyakit tidak menular (PTM) menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Riskesdas tahun 2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001 menunjukkan pergeseran epidemiologi dimana  kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular semakin menurun. Stroke, misalnya, merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia dan menggantikan ISPA yang menurun tajam. Stroke sendiri menyebabkan 15,4% dari total kematian (Riskesdas 2007).

Gagal mencapai tujuan MDG’s

Indonesia juga gagal mencapai tujuan MDG’s yang lalu untuk kesehatan tujuan 4 (mengurangi angka kematian bayi) dan 5 (memperbaiki kesehatan perempuan) terutama. SDKI 2012 menunjukkan meningkatnya rata-rata angka kematian ibu (AKI) yang mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup dibandingkan hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu. Padahal sebelumnya jumlah angka kematian ibu pada periode 1990 hingga 2007 telah mengalami penurunan hingga 41 persen (BPS, 2013). Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami pelambatan penurunan yakni dari 34 per 1000 kelahiran (SDKI, 2007) menjadi 32 per 1000 kelahiran (SDKI, 2012) dan Angka Kematian Balita (AKABA) dari 44 (SDKI, 2007) menjadi 40 (SDKI, 2012).

Tantangan ganda bonus demografi dan lansia

Dalam kurun waktu dua puluh tahun mendatang, pemerintah Indonesia harus mengagendakan bonus demografi dan meningkatnya penduduk usia lanjut (lansia) dalam perencanaan strategi kebijakan nasionalnya. Meningkatnya jumlah lansia berimplikasi pada meningkatnya biaya kesehatan untuk mencukupi layanan kesehatan khusus dan terpadu pada tingkat primer, sekunder dan tersier dan layanan home care. Sedangkan jumlah wanita usia subur yang diperkirakan akan berlipat ganda di tahun 2019 dari 67,1 juta (2015) menjadi  117,5 juta di tahun 2019, juga menambah beban biaya kesehatan.

Tantangan perbaikan akses dan mutu kelembagaan

Kebijakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) berimplikasi pada peningkatan akses dan mutu fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, termasuk sistem rujukan antar-fasilitas kesehatan. Saat ini, Indonesia selain mengalami kekurangan jumlah, juga dihadapkan pada rendahnya kualitas dan sebaran tenaga kesehatan yang tidak merata termasuk tenaga sanitasi, gizi, dan penyuluh kesehatan. Dari data yang ada, secara nasional, jumlah tenaga kesehatan belum memenuhi target per 100.000 penduduk. Jumlah dokter spesialis baru mencapai 7,73 dari target 9; Dokter umum tercatat baru mencapai 26,3 dari target 30. Sementara perawat baru mencapai 157,75 dari target 158 dan bidan 43,75 dari target 75 per 100.000 penduduk.

Kemandirian bahan baku obat dan alat kesehatan

Masalah kemandirian terkait dengan akses dan mutu, ketersediaan farmasi dan alat kesehatan juga masih menjadi tantangan utama kebijakan kesehatan Indonesia. Pada saat ini sekitar 90% bahan baku obat dan alat kesehatan masih diimpor dari luar negeri sehingga harga obat dan alat kesehatan menjadi mahal. Padahal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di bidang ini, produksi vaksin dari Biofarma misalnya, telah mampu bersaing di tingkat global.

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..