Program Eliminasi Schictosomiasis Kementerian Kesehatan

 

Schistosomiasis merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh cacing Schistosoma dan dibawa oleh keong Oncomelania. Berlatar belakang hal itulah, penyakit ini sering kali disebut sebagai demam keong. Saat ini, Schistosomiasis masih ada di Indonesia. Penyakit ini hanya dijumpai di 28 desa di Sulawesi Tengah, yaitu di 5 desa di Kabupaten Sigi dan 23 desa di wilayah sekitar Danau Lindu, Kabupaten Poso. Jumlah penduduk di kawasan tersebut ini berkisar antara 30.639 orang. Dan dengan fakta tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara di wilayah SEARO (South East Asia Regional Office – WHO) yang masih memiliki masalah Scistosomiasis. Hal tersebut terungkap pada acara Pertemuan Lintas Sektor Eliminasi Penyakit Demam Keong (Schistosomiasis) Melalui Pengendalian Lingkungan Terpadu di Hotel Crown Plaza, Jakarta. pada tanggal 24 Oktober 2016, yang dihadiri oleh perwakilan dari SEARO-WHO, TNI, POLRI, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Penularan Schistosomiasis terjadi dengan cara Larva cacing Schistosoma menembus kulit dan masuk ke dalam tubuh manusia dan menjadi tumbuh menjadi dewasa, bertelur lalu telurnya keluar bersama tinja.  Jika penderita schistosoma buang air besar sembarangan maka telur schistosoma akan tersebar di tanah dan lingkungan menetas menjadi larva dan masuk ke dalam tubuh keong oncomelania. Di dalam tubuh keong oncomelania, larva tersebut berkembang menjadi larva dewasa lalu keluar ke lingkungan dan dapat menulari manusia selain dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Larva juga dapat masuk ke dalam tubuh hewan mamalia seperti sapi, kerbau, kuda, dan anjing. Hewan-hewan ini dapat menjadi sumber penularan dengan menyebarkan telur schistosoma melalui tinjanya.

Kementerian Kesehatan mengaku telah berupaya keras menurunkan angka kesakitan bahkan kematian di manusia akibat Scistosomiasis. Pencegahan dan pengendalian Schistosomiasis di Indonesia dimulai pada tahun 1981 dan berlanjut sampai sekarang. Upaya dimulai di Lindu (1981) diperluas ke Napu (1982) dan Besoa (1987). Upaya yang dilakukan oleh sektor kesehatan diantaranya: Promosi kesehatan agar masyarakat menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan; Pengobatan penderita Schistosomiasis; Surveilans Schistosomiasis pada manusia, keong Oncomelania, dan tikus; dan perubahan lingkungan untuk pemberantasan keong Oncomelania. Dan hasilnya adalah prevalensi Schistosomiasis pada manusia berhasil diturunkan dari 5,9% tahun 1989 menjadi 1,2% tahun 2016.

Yang menjadi pertanyaan pada pertemuan tersebut adalah,

  1. Apakah Kementerian Kesehatan sudah mengevaluasi keefektifan seluruh kebijakan nasional maupun kebijakan operasional yang telah diambil terkait masalah Schistosomiasis ini?
  2. Mengapa Kementerian Kesehatan mengambil kebijakan saat ini atas masalah penyakit Schistosomiasis ini hanya sebatas “eliminasi” dan tidak mencanangkan “eradikasi”?

Dan berikut adalah materi-materi yang dipaparkan oleh para Narasumber, silahkan untuk diunduh ..

Materi Presentasi Schistosomiasis

© 2016 – 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..