Semua Musti Proporsional

 

 

Saya menanggapi atas sidak yang dilakukan Gubernur Jambi Zumi Zola. Berita Gubernur Jambi Zumi Zola melakukan sidak dini hari menjadi viral karena memang dibuat video ketika sang Gubernur orang nomor 1 di Jambi  membuka pintu kamar jaga dengan membabi buta sambil berteriak-teriak. Setelah itu beliau menyampaikan kecewa terhadap pelayanan RS yang buruk dan sering mendapatkan laporan kalau dokter jaga tidur setelah jam 12 malam. Sejauh yang kita ketahui Zumi Zola sudah menjadi Gubernur hampir  1 tahun. Semuanya masalah RS sudah diurus dalam 100 hari program kerja beliau. Kita ketahui bahwa saat ini Direktur Utama RSUD Provinsi Jambi ini masih plt karena Dirut yang dipilih melalui proses lelang mengundurkan diri. Untuk menetapkan direktur utama  RSUD provinsi yang tetap saja sang gubernur masih terkendala.

Sebagai seorang gubernur, Zumi Zola menjadi  orang yang bertanggung jawab atas berbagai hal termasuk rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan rujukan. Sah-sah saja jika Gubernur melakukan sidak untuk menkonfirmasi laporan dari masyarakat atas pelayanan RS tersebut. Tetapi ada yang kurang tepat dilakukan ketika Gubernur Zumi Zola melakukan sidak dengan diikuti media cetak dan elektronik. Apa yang ditunjukkan beliau adalah marah-marah dan bahkan sampai menendang tempat sampah. Jelas menunjukkan pemimpin yang tidak mampu mengendalikan diri apalagi sedang disorot kamera.  Tempat sampah di ruang perawatan RS secara umum ada 2 tempat sampah untuk sampah infeksius biasa berwarna kuning  dan tempat sampah untuk non infeksius. Kalau saja kebetulan yang ditendang tempat sampah infeksius tindakan Gubernur ini juga akan membahayakan dirinya tetapi juga pasien dan petugas kesehatan lain.

Saya  tadi pagi sempat  di wawancarai oleh Elshinta mengenai hal ini dan pada talshow tersebut dibuka juga pertanyaan buat pendengar. Pada talkshow  ada beberapa penanya dari kalangan awam setuju apa yang dilakukan oleh Zumi Zola. Komentar masyarakat juga beragam antara lain  ”yang namanya petugas jaga ya tidak boleh tidur”“dokter dan perawat harus stand by dan melek terus”, “dokter tugasnya melayani pasien sehingga tidak boleh tidur” dan  “wajar petugas diperlakukan demikian  oleh gubernur jika kerjanya tidak benar”.

Ada satu pendengar kebetulan pensiunan perawat yang berkomentar menyesalkan tindakan Gubernur Zumi Zola, pasti ada sistim dimana ada petugas yang sedang istirahat dan ada yang stand by sesuai load kerja saat itu.

Gubernur Jambi, Zumi Zola

Saya sendiri melihat apa yang ditunjukan oleh Gubernur Zumi Zola kepada petugas kesehatan bisa menjadi contoh masyarakat ketika melakukan komplain terhadap petugas kesehatan. Padahal sudah aturan dan berlaku secara internasional bahwa dokter dan petugas tidak boleh bekerja di dalam tekanan. Kalau semua pasien atau keluarga pasien bisa marah-marah seperti Pak Gubernur akan memepengaruhi kinerja para petugas kesehatan. Hal lain yang saya komentari bahwa dokter dan perawat jaga mempunyai porsi didalam bertugas sesuai dengan tanggung jawab ruangannya. Bisa saja setelah jam tertentu setelah proses perawatan rutin, perawat jaga yang ada bergantian untuk beristirahat. Tetapi pasti ada yang stand by untuk mengganti infus dan menemui pasien yang mengalami keluhan karena sakitnya.

Bagaimana dengan dokter jaga ruangan, biasanya dokter jaga ruangan bertanggung jawab untuk banyak ruangan, setelah keliling bisa saja dokter beristirahat tetapi tetap dengan kondisi siap untuk datang jika dipanggil suster.

Sidak memang sudah menjadi budaya sebagian pejabat negeri ini, tetapi yang terpenting adalah  follow up pasca sidak harus meliputi perbaikan sistim. Perbaikan sistim termasuk bagaimana SOP masing-masing petugas saat berdinas jaga, bagaimana jam kerja dokter selama seminggu, termasuk juga tunjangan dan insentif  petugas kesehatan. Harus diantisipasi overload yang terjadi pada perawat atau dokter jaga. Di era JKN ini pasien rawat inap cenderung meningkat pada beberpa rumah sakit rujukan.

Akhirnya jika memang para petugas lalai dalam melaksanakan tugas, harusnya  ada sistim yang dibuat agar mereka diberikan sanksi sesuai dengan pelanggaran disiplin yang terjadi. Yang penting dari semua ini keselamatan pasien (patient safety) menjadi tujuan dari suatu pelayanan kesehatan.

Salam sehat,

Ari Fahrial Syam MD,PhD, FACP

Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine, University of Indonesia / Cipto Mangunkusumo Hospital / Wakil Ketua PB PAPDI

*Sumber : PB IDI

 

 

© 2017, bastamanography.id.

saya percaya para pengunjung dan pembaca tulisan-tulisan di website ini adalah mereka yang termasuk golongan cerdas dan terpelajar, yang mampu berkata santun, berkritik disertai saran yang membangun dalam berkomentar, terima kasih ..